Showing posts with label Lampung Post. Show all posts
Showing posts with label Lampung Post. Show all posts

Monday, 16 June 2014

Kebaikan Onil


“Hoek! Bau apa ini?!” teriak Rae si rusa kaget. Bau busuk tiba-tiba tercium hidungnya
“Hoek! Iya nih! Bau sekali!” Zee si Zebra ikut-ikutan berteriak. Zebra-zebra lainnya juga mencium bau yang sama.
“Kamu buang angin ya?”
“Enak saja! Kamu tuh yang buang angin!”
Mereka saling menyalahkan.

Tiba-tiba ada yang muncul dari permukaan sungai. Itu Onil si Kuda nil yang sejak tadi asyik berendam.
“Maaf ya teman-teman, aku yang buang angin.” ujar Onildengan santai. Ia bahkan kembali buang angin. Onilmembuka mulutnya lebar-lebar. Saking lebarnya, satu ekor rusa tentu bisa masuk ke dalam mulutnya itu. Dan, olala tercium kembali bau busuk itu.
“Kamu ini jorok sekali kuda nil!” ujar Zeekesal
“Iya, masa buang angin dari mulut!” Raemenambahi
Onil hanya menyengir lebar. Memang kenyataannya begitu. Semua kuda nil memang buang angin dari mulut.
“Tempat kamu makan kok sama dengan tempat buang angin? Huek! Mengerikan!” ejek Rae sambil tertawa
“Ahahahaha! Ahahahahaha!” Zee dan semua zebra ikut tertawa
Onil menjadi malu sekali. Rasanya ingin sekali ia menangis.
“Lihat dong, Onil berkaca-kaca. Sebentar lagi menangis tuh. Hahahaha. Badan besar tapi menangis seperti bayi. Hahahaha.”
Mereka sudah keterlaluan. Onil ingin sekali mengejar dan memberi mereka pelajaran dengan satu serudukan. Tapi Onil tahu, kalau itu ia lakukan. Mereka akan mati. Onilbukan hewan jahat. Ia memilih diam dan pergi. Onil menuju sungai yang lebih dalam untuk berendam.
Berendam sangat mengasyikan. Onildapat melupakan kejadian tidak menyenangkan tadi. Walaupun memang benar ia buang angin lewat mulut. Tapi mereka juga tidak bisa mengejeknya seperti itu. Ah sudahlah, lupakan saja.
Onil sedang asyik berendam, saat ia mendengar jeritan minta tolong,
“Tolong!”
Bukankah itu suara Rae?
“Tolong kami!”
Bukankah itu suara Zee tan teman-temannya? Ada apa dengan mereka?
Onill tak menunggu lama. Ia bergegas keluar dari sungai dan berlari ke arah suara jeritan. Tampak olehnya seekor Harimau mengejar Raedan rombongan Zee yang berlari kocar-kacir.
Onil dapat berlari cepat meskipun tubuhnya amat besar. Sekuat tenaga ia mengumpulkan nafas. Dan,
Hoaaaa....!
Onil buang angin lewat mulutnya. Tepat di depan wajah Harimau. Seketika Harimau itu kaget dan pingsan.
Rae dan rombongan Zee jatuh tersungkur kelelahan. Mereka masih kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi. Hampir saja salah satu dari mereka menjadi santapan Harimau. Ternyata Onil buang angin dari mulut itu ada gunanya juga.
“Terima kasih Onil,” ucap Rae terbata-bata. Ia masih lemas ketakutan.
“Maafkan kami ya. Kami sudah mengejekmu tadi. Tapi kamu justru menolong kami,” ujar Zeesambil menangis.
“Maaf ya Onil!” mereka semua meminta maaf dengan tulus.

Onil mengangguk dan tersenyum lebar. Membalas keburukan dengan kebaikan itu menyenangkan sekali ya?

(Lampung Post, 15 Juni 2014)

Friday, 23 May 2014

Miko dan Negeri Sampah

Miko buru-buru meraih barang-barang yang berserakan. Sebelum Mama datang dan tahu, ia belum melakukan apapun di kamarnya.
Kotak tempat mainannya sudah tidak muat. Baiknya dibuang saja beberapa. Miko mengambil plastik kresek putih di sudut lemari. Ia mulai memilah mana yang akan dibuang.
Mobil tamiya sebenarnya masih bagus. Tapi sudah ketinggalan zaman.  Toh, Papa sudah berjanji akan membelikan mobil tank super keluaran terbaru. Helikopter kerlap-kerlip ini juga. Sudah rusak.

Mana lagi ya? Hm, Miko melirik baju teddy bear yang tergeletak di pojok tempat tidur. Itu hadiah dari tante Lila. Uh, sebenarnya Miko tidak suka baju itu. Warnanya itu loh. Pink. Miko memasukkan semua itu ke dalam plastik kresek. Ia lalu berlari menuju tempat sampah di luar pagar rumah.
“Mikooo?!”
Itu suara Mama. Miko berhenti tepat di depan pagar rumah. Bak pemain basket handal, ia mengoper plastik kresek ke dalam tong sampah. Yah! Meleset. Plastik kresek itu justru masuk ke dalam selokan.
Saat hendak mengambil kembali plastik kresek, Miko tersandung, lalu jatuh. Lututnya terasa perih. Ia duduk sambil meringis.
 “Keluar dari tubuhku!”
Miko nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Plastik kresek itu bisa bicara.
“Aku belum mau jadi sampah. Huhuhu.” Kali ini baju teddy bear yang bicara. Ia bahkan bisa menangis.
“Uh, aku bahkan sama sekali belum rusak!” keluh mobil Tamiya.
Helikopter kerlap-kerlip tak ikut bicara. Ia hanya tertunduk sedih.
Miko mengucek-ucek matanya. Belum habis rasa kagetnya. Tiba-tiba gulungan angin topan menghampiri mereka. Miko ingin berlari. Tapi percuma. Ia masuk ke dalam pusaran angin  topan bersama sampah-sampahnya yang bisa bicara.
“Tidak! Aku tidak ingin ke negeri sampah!” jerit plastik kresek.
“Aku masih bisa digunakan!” jerit baju teddy bear.
Miko berteriak. Kepalanya pusing. Debu menutupi penglihatannya. Miko masih berteriak saat pusaran angin topan berhenti. Ia terdampar diatas sofa kotor.
“Lagi-lagi ada sampah yang datang.”
Miko terlonjak dari duduknya. Sofa kotor itu juga bisa bicara
“Ini dimana?” tanya Miko bingung.
“Negeri sampah.” jawab plastik kresek. Ia melirik Miko tak suka.
“Kalau Mama Miko yang menemukanku, aku pasti disimpan.” Gumam plastik kresek kesal.
“Manusia itu jahat sekali, bahkan anak juga dibuang jadi sampah.” Dengus botol kaca bekas yang tiba-tiba mendekat.
“Aku tidak dibuang!” jerit Miko. Ia sangat ketakutan. Sampah-sampah terlihat sejauh mata memandang. Beberapa mendekat ke arah Miko. Beberapa tidak peduli.
 “Miko ikut terkena angin topan saat membuang kami.” Jelas helikopter kerlap-kerlap pelan.
“Itu pelajaran buatmu. Kau suka membuang-buang barang ke tempat sampah. Jadi hari ini kau juga jadi sampah.” Ujar mobil Tamiya kesal
Miko terduduk sedih. Matanya terasa perih. Ia ingin menangis.
“Huhuhu. Aku sangat bahagia saat kau memakaiku, Miko. Walaupun kau tidak menyukaiku. Aku tidak ingin menjadi sampah secepat ini. Aku lebih senang jika menjadi kain lap. Itu jauh lebih berguna. Huhuhu.” Baju teddy bear menangis sesegukan.
Sampah-sampah menatapnya tak suka.
“Aku, aku tidak tahu kalau kalian tidak suka dibuang.” ucap Miko terbata-bata.
“Anak egois!” ujar mobil Tamiya sinis
“Sudahlah, Tamiya.” ucap Helicopter kerlap-kerlip.
 “Kembalikan aku ke rumahku. Aku berjanji tidak akan sembarangan membuang kalian lagi.” Miko memohon. Ia berusaha untuk tidak menangis.
“Kami tidak tahu caranya keluar dari sini.” Jawab helikopter kerlap-kerlip.
“Kau tahu, butuh waktu berapa lama sampai kami benar-benar menjadi sampah?” tanya botol kaca.
Miko menggeleng.
“Mobil Tamiya dan helikoptermu itu butuh waktu 450 tahun. Bajumu 40 tahun. Plastik kresek 100 tahun. Dan aku, 4000 tahun!” jelas botol kaca esmosi.
Miko terlongo kaget. Ia sama sekali tidak mengetahui itu sebelumnya.
“Manusia seharusnya memikirkan itu sebelum membuang kami.” sahut sofa kotor.
“Yah, mereka akan sadar saat bumi benar-benar tertutup oleh sampah!” tambah botol kaca.
“Kau bahkan membuang barang-barang yang masih dapat digunakan!” ujar plastik kresek kesal.
“Beri aku kesempatan!” jerit Miko mengiba
Tiba-tiba, angin topan kembali datang.
“Ini saatnya kau kembali. Sampaikan pada manusia yang lain. Gunakan kami sampai benar-benar tidak bisa digunakan lagi.” ucap sofa kotor.
Mata Miko berkaca-kaca. Ia mengangguk mantap. Tak lama, angin topan membawa Miko dan sampah-sampah itu masuk ke dalam pusarannya. Miko berteriak. Tak lama, Miko tersungkur di dekat selokan dan tong sampah.

Miko mengambil plastik kresek beserta isinya dari dalam selokan. Terngiang olehnya ucapan sofa kotor. Gunakan barang sampai benar-benar tidak bisa digunakan lagi. Miko berjanji akan melakukannya. Juga menyampaikan itu pada keluarga, teman, dan semua orang.

Ondur yang Berjalan Mundur

Ondur si undur-undur adalah serangga yang sangat tertutup. Ia tidak memiliki satu pun teman. Selain karena wajahnya yang tampak seram, Ondur juga jarang terlihat. Ia lebih suka menyendiri di lubangnya. Itu sebabnya Ondur terkenal misterius. Tidak ada serangga lain yang berani mencoba mendekatinya, kecuali Wings si kupu-kupu.
“Aku ingin mengundang semua serangga di hari ulang tahunku, Upik. Termasuk Ondur,”ujar Wings
“Apa aku tidak salah dengar? Untuk apa kau mengundang Ondur misterius itu?” Tanya Upik si kepik kaget

“Misterius bukan berarti berbahaya kan?” Wings mengerlingkan sebelah kelopak matanya
“Iya, sih. Tapi..”
“Sudahlah, Upik. Apa kau tidak penasaran dan ingin melihat dari dekat bagaimana Ondur berjalan mundur?”
Tak ada lagi keberatan dari Upik. Wings segera terbang menuju lubang tempat tinggal Ondur. Upik hanya mengintip dari jauh.
“Hai, Ondur. Kau sedang apa?” Tanya Wings.
Tidak ada jawaban. Ondur terlihat sedang menggali lubangnya lebih dalam.
“Ondur? Kau mendengarku?”
Ondur menoleh. Wajahnya tampak kurang bersahabat. Wings mencoba tersenyum dan kembali bertanya,
“Besok kau ada acara tidak? Aku kemari ingin mengundangmu di pesta ulang tahunku. Aku sangat berharap kau dapat hadir.”
Karena kembali tidak ada jawaban, Wings pamit pulang. Diikuti Upik yang terus khawatir kalau besok Ondur benar-benar hadir.
Esoknya, kekhawatiran Upik benar-benar terjadi. Ondur hadir tepat saat semua tamu undangan menyanyikan lagu potong kue. Mengetahui kehadiran Ondur, semua berhenti bernyanyi. Suasana menjadi sangat hening dan kaku.
“Oh, hai Ondur. Selamat datang. Aku senang kau memenuhi undanganku,” sambut Wings dengan wajah berbinar.
Hei, lihatlah Ondur mencoba untuk tersenyum dan berhasil. Ia juga mencoba untuk menyalami Wings dan berkata selamat ulang tahun. Lagi-lagi berhasil.
Suasana yang kaku perlahan kembali santai. Lagu potong kue pun sudah kembali dilantunkan. Ondur mendapat satu suapan kue dari Wings. Dengan ramah, Ondur mengucapkan terima kasih. Sepertinya Ondur yang misterius tidaklah berbahaya.
Seluruh serangga menjadi sangat kaget dan tertawa-tawa saat Ondur ikut menari dengan tarian paling lucu yang pernah ada. Bagaimana tidak lucu, Ondur menari dengan gaya jalan mundur khasnya.

Sejak itu, tidak ada lagi julukan misterius untuk Ondur. Kini Ondur lebih dikenal sebagai serangga paling lucu. Ondur si undur-undur yang berjalan mundur.

Pupuy Cantik sekali

Pupuy adalah seekor ulat coklat dengan bintik-bintik hitam di sekujur tubuhnya. Meskipun Pupuy terlihat tidak menarik saat ini, ia tetap percaya diri. Pupuy tahu suatu hari ia akan berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Semua penghuni kebun ini yang berkata seperti itu.
"Hei, Pupuy. Makan saja kerjaanmu." tegur Obi si burung Pipit. Pagi itu ia bertengger di ranting pohon. Ada Pupuy yang sedang asyik memakan daun.
"Biar saja. Apa urusanmu Obi." jawab Pupuy tak perduli
"Kasihan kan Apo. Daunnya bisa habis kau makan."
"Aku sudah ijin kok. iya kan Apo?"

"Iya. Biar saja Obi. Pupuy juga sebentar lagi akan menjadi kepompong. Puasa berhari-hari sebelum menjadi kupu-kupu cantik." puji Apo si pohon alpukat. Pupuy menjadi bangga dipuji seperti itu.
"Tuh, dengar apa kata Apo. Tunggu saja sampai aku berubah menjadi kupu-kupu yang cantik." ucap Pupuy
"Kau tidak perlu marah, Pupuy. Aku kan tidak bermaksud mengejekmu."
"Ya sudah. Pergi sana. Aku lagi sibuk."
Pupuy kembali menikmati daun-daun milik Apo yang lezat. Obi terbang menjauh. Apo tertidur lelap di tengah desiran angin lembut.
Hari beranjak sore. Pupuy masih asyik menikmati daun-daun milik Apo. Terlihat rombongan lebah yang baru pulang menuju sarang.
"Cepat juga kalian terbang. Tapi sayap kalian kecil sekali ya. Harus mengepak berkali-kali agar tidak terjatuh. Hihihi." komentar Pupuy saat rombongan lebah melewatinya.
Rombongan lebah tidak menjawab. Mereka terlalu lelah seharian bekerja
"Kalau sayapku nanti akan lebih lebar dari tubuhku yang ramping. Aku bisa terbang bebas kesana-kemari tanpa perlu tergesa-gesa seperti kalian." ucap Pupuy lagi.
"Mengapa kamu mengatai kami seperti itu?" tanya salah satu lebah yang tidak tahan dengan komentar Pupuy. Ia terbang mendekat ke arah Pupuy.
Pupuy tak menjawab. Ia mencoba berkacak pinggang. Namun tangan-tangannya terlalu pendek untuk melakukan itu. Pupuy akhirnya bersender di ranting pohon. Tersenyum penuh percaya diri.
“Aku calon kupu-kupu yang sangat cantik. Akan jauh lebih cantik dibandingkan kalian. Jadi kalian jangan iri ya. Hihihihi,” ucap Pupuy lagi
“Kau sombong sekali.”
“Biar saja.”
Pupuy melenggang pergi. Tak dipedulikannya tatapan kesal dari rombongan lebah. Ia terus berjalan pelan menuruni tubuh Apo. Ia merasa sudah saatnya tubuhnya berubah. Tubuh ulatnya harus menjadi kepompong.
“Akhirnya saat yang kutunggu-tunggu datang juga!” sorak Pupuy
“Saat apa yang kau tunggu, Pupuy?” tanya Etal si tanaman talas.
“Saat aku berubah menjadi kepompong. Itu artinya aku akan segera menjadi kupu-kupu.” Jawab Pupuy dengan bangga
“Wah, kau pasti akan menjadi cantik sekali, Pupuy.” puji Etal. Kupu-kupu yang selama ini dikenalnya, semua berparas cantik. Kupu-kupu selalu mengundang decak kagum para penghuni kebun.
“Pasti dong!” jawab Pupuy makin bangga
Ia segera berjalan cepat. Tubuh gendut membuatnya susah bergerak. Namun Pupuy tidak patah semangat. Akhirnya ia tiba di ranting milik Ago si pohon mangga.
“Ago, ijinkan aku menjadi kepompong dan bergelantungan di rantingmu ya?”
“Silahkan Pupuy, dengan senang hati.” jawab Ago ramah.
Tak lama, Pupuy membungkus dirinya menjadi kepompong. Berhari-hari Pupuy berpuasa untuk kemudian dapat berubah menjadi kupu-kupu.
Hari itu pun tiba. Pupuy menunjukkan tanda-tanda akan berubah menjadi kupu-kupu. Perlahan-lahan Pupuy keluar dari kepompongnya dan tampaklah sosok kupu-kupu itu.
Tubuhnya berwarna kecoklatan. Dua antena kecil bertengger di atas kepalanya. Matanya hitam bulat. Dan sayapnya. Ini yang paling penting. Sayapnya berwarna… Oh tidak, mengapa sayap Pupuy berwarna coklat? Sama seperti warna tubuhnya. Tidak ada warna-warni indah. Hanya bintik-bintik hitam yang terkesan kusam. Sayap itu pun tidak begitu lebar. Tubuh coklatnya pun tidak bisa dibilang ramping.
Pupuy kaget bukan main. Mengapa sosoknya seperti ini? Sama sekali tidak cantik. Pupuy berkaca di atas permukaan air. Ia menangis tersedu-sedu menyadari betapa buruknya ia saat menjadi kupu-kupu.
Semua penghuni kebun mendengar tangisan Pupuy.
“Hai, kau pasti Pupuy yang telah berubah menjadi kupu-kupu cantik bukan?” tanya Apo si pohon alpukat. Pupuy tak menjawab. Tangisannya justru bertambah keras.
“Pupuy, mengapa kau menangis? Harusnya kau bahagia. Hari ini kau telah berubah menjadi kupu-kupu cantik,” hibur Ago si tanaman talas
“Kau mengejekku? Yang seperti ini kau bilang cantik?!” ucap Pupuy di tengah isak tangisnya.
“Kau memang cantik, Pupuy. Iya kan teman-teman?” tanya Ago pada semua penghuni kebun
“Iya, kau memang cantik, Pupuy,” jawab Apo, Ulil si ular hijau, Obi si burung pipit, rombongan lebah, sepasang jangkrik, dan Lala si belalang bersamaan.
“Kau cantik dengan sayap yang bisa membawamu terbang bebas kesana kemari. Kau cantik dengan senyum manismu dan sikap ramahmu. Kau sangat cantik dengan semua itu.” Ambu si pohon rambutan menambahi.

Semua penghuni kebun terus menghibur dan menyemangati Pupuy. Pupuy akhirnya sadar. Ia akan menjadi cantik dengan menjadi kupu-kupu yang baik hati. Tidak lagi sombong seperti kemarin-kemarin. Lihatlah, Pupuy si kupu-kupu amat cantik dengan senyuman pertamanya hari ini.

Semut dan Kutu daun

“Air itu sangat lezat. Warnanya putih seperti susu. Rasanya manis seperti madu.”
Tak sengaja, Semut mendengar dua ekor burung gereja bercakap-cakap. Air lezat? Seperti susu? Seperti madu? Wah, Semut jadi penasaran. Air apa itu? Semut memasang telinganya lekat-lekat.
“Dimana kau temukan air itu?” tanya teman burung gereja
“Di sarang kutu daun,” jawab si Burung gereja

Sarang kutu daun? Itu kan dekat sekali. Sarang kutu daun ada di atas pohon mahoni. Semut ingin sekali mencoba air itu. Sepertinya memang lezat sekali. Ia pulang ke sarang dan memberitahu teman-temannya tentang percakapan dua ekor burung gereja tadi.
Cerita Semut membuat heboh rakyat semut. Semua penasaran dengan rasa manis dari air milik kutu daun.
 “Kami juga penasaran dengan air milik kutu daun itu, Semut. Tapi kita tidak mungkin meminta bukan? Apalagi sampai mengambil paksa. Mencari remah-remah makanan sudah cukup bagi kita,” ucap Ratu semut
Ratu semut benar. Rakyat semut bukanlah hewan pengganggu. Semut menghela nafas, mungkin air milik kutu daun hanya menjadi impian kosong baginya. Semut berusaha melupakan rasa penasarannya tentang air milik kutu daun. Ia kembali menyibukkan diri dengan bekerja bersama teman-temannya.
Hari itu semut dan teman-temannya mencari remah-remah makanan di sekitar pohon mahoni. Cukup banyak hasil yang mereka dapatkan. Ketika mereka sedang siap-siap pulang ke sarang. Terdengarlah jeritan ketakutan dari atas pohon mahoni.
“Pergi! Jangan ganggu kami!”
“Hahahaha. Kami sudah meminta baik-baik. Kau tidak boleh pelit, Kutu daun!”
Terlihat oleh Semut, dua ekor burung gereja yang kemarin bercakap-cakap. Apakah mereka sedang mengambil air milik kutu daun secara paksa?
“Pergi kalian! Kami tidak akan memberi kalian satu tetes pun!”
Semut menoleh ke arah teman-temannya. Mereka sama-sama tahu apa yang akan mereka lakukan. Semut dan teman-temannya berlari menaiki pohon mahoni. Mereka menuju sarang kutu daun.
Sesampainya disana. Terlihat sarang kutu daun yang hampir robek. Lima ekor kutu daun tampak ketakutan. Dua ekor burung gereja masih berusaha mengambil air dari sarang kutu daun. Semut dan teman-temannya menaiki tubuh burung gereja. Tanpa ampun mereka menggigit bagian tubuh yang bisa digigit.
“Kurang ajar! Aduh! Sakit!”
“Aw! Sakit!”
Dua ekor burung gereja itu terbang tak tentu arah. Semut dan teman-temannya berhasil turun kembali ke ranting dan daun mahoni.
“Terima kasih, semut-semut. Kalian sudah menolong kami,” ucap salah satu kutu daun.
Semut dan teman-temannya mengangguk dan tersenyum.
“Hati-hatilah menjaga air lezat kalian itu, ujar Semut
“Bagaimana kau tahu kalau air kami ini lezat?” tanya kutu daun
“Aku hanya mendengar dari hewan lain.”
“Kalian boleh ikut menikmati air kami setiap hari, tapi ada syaratnya,” tawar kutu daun
“Apa syaratnya?” semua semut kompak bertanya
“Kalian bersedia membantu kami untuk menjaga sarang kami, bagaimana?” tanya kutu daun.

“Siap!” Semut dan teman-temannya menjawab dengan lantang. Mereka senang sekali. Akhirnya bisa menikmati air milik kutu daun itu setiap hari. Wah! Ternyata rasanya memang lezat sekali! Tunggu sampai Ratu semut ikut menikmati air ini.

Wednesday, 1 January 2014

Gigi seri yang sombong



“Makanan datang!!! Kalian siap teman-teman?!” Seru salah satu gigi seri bersemangat.
“Siaaaap!!!” Kompak sekali seluruh pasukan gigi menjawab
“Wow! Lihatlah, tuan kita memakan brownieslezat kali ini!” Salah satu gigi taring mengintip dari celah bibir

“Horeeeee!!!!” Sambut pasukan gigi semangat sekali
Potongan brownies yang lembut itu satu persatu masuk ke mulut. Ini sih pekerjaan mudah. Tak butuh tenaga banyak. Tim gigi seri menggigitnya. Lalu segera dikunyah oleh tim gigi geraham. Tanpa perlu dicabik oleh tim gigi taring.
“Ayo....dorong!!!!!” Teriak gigi geraham. Si lidah pun ikut membantu. Hap! Masuklah browniesyang telah halus itu kedalam rongga tenggorokan.
“Terima kasih” Ucap tenggorokan
“Sama-sama!” Jawab pasukan gigi sangat kompak. Kalau tak ada pasukan gigi, tentu tenggorokan akan kesusahan menelan makanan yang masuk.
Sambil menunggu tugas berikutnya, pasukan gigi kembali berbincang-bincang.
“Aku paling suka kalau tuan memakan brownies. Manis sekali.” Komentar salah satu gigi geraham.
“Kalau aku lebih suka tuan memakan permen mint.Tubuhku jadi segar.” Salah satu gigi seri berkomentar lain.
“Ngomong-ngomong, hari ini tuan kita belum makan daging ataupun ikan ya.” Salah satu gigi taring bergumam pelan
“Memang kenapa, ring? Kau sedih karena tidak banyak bekerja ya? Hahahaha” Ledek salah satu gigi seri.
Si gigi taring diam tak menjawab. Sebenarnya memang begitu adanya. Sejak pagi, ia dan tiga gigi taring lainnya sedikit sekali bekerja. Itu pun hanya membantu pekerjaan gigi seri. Hanya memotong tempe goreng.
Hahaha. Bisa dikatakan, kalaupun kalian tidak ada. Kami masih tetap bisa bekerja!” Gigi seri yang lain menambahkan
“Hei! Kau tidak bisa mencabik makanan! Hanya kami yang bisa melakukan itu!” Bantah salah satu gigi taring kesal
“Tetap saja, kamilah gigi paling penting di pasukan gigi.” Tim gigi seri mulai sombong
“Iya! Bahkan tuan kita saja, paling sering memamerkan indahnya tubuh kami.”
“Sudahlah. Mengapa kalian jadi ribut. Kita kan sudah lelah seharian ini.” Salah satu gigi geraham melerai
“Tidak usah ikut campur, geraham. Tidur saja kau sana! kalau kalian bicara, baunya sangat tidak sedap.” Gigi seri justru semakin menjadi-jadi
“Hei mengapa kalian juga mengatai kami?” Panas juga tim gigi geraham mendengarnya
“Kami bicara apa adanya. Kalian paling susah dijangkau sikat gigi. Kalian tim paling jorok di pasukan gigi. Sangat mudah digerogoti kuman sampai berlubang. Hiii!!!!” Semua tim gigi seri tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali.
“Kalian benar-benar sudah keterlaluan!” Teriak gigi geraham kesal.
“Sudahlah, geraham. Kita lihat seberapa hebat tim gigi seri. Apakah mereka benar-benar bisa melakukan pekerjaan tanpa kita.” ucap gigi taring
Tim gigi geraham dan tim gigi taring mogok bekerja. Awalnya tim gigi seri percaya diri sekali. Bisa melakukan pekerjaan pasukan gigi sendiri. Lama-kelamaan mereka lelah juga. Apalagi baru saja tuan mereka memakan daging kambing. Mereka terpaksa mencabik-cabik daging itu sekedarnya. Belum sempat melembutkan daging itu, mereka sudah nyaris pingsan.
“Kalian ini bisa tidak sih melembutkan makanannya? Aku kesusahan mendorongnya. Lambung bilang padaku. Katanya lama-lama bisa membahayakan tuan kita.” Protes si tenggorokan
Tim gigi seri tak menjawab. Mereka tidak bisa berkata apa-apa.
Akhirnya, tuan mereka jatuh sakit. Akibat makanan yang tidak diolah dengan baik.
“Ini gara-gara kalian gigi seri!” Ujar lidah kesal. Selama ini, lidah diam saja. Tapi kalau tuan sudah sakit begini, lidah juga ikut kesal pada tim gigi seri.
“Segera berbaikan dengan gigi geraham dan gigi taring. Menyusahkan saja!” umpat tenggorokan menambahkan.
Tim gigi seri bungkam. Mereka masih enggan meminta maaf.
“Sudahlah. Kami tidak mogok kerja lagi, kok. Lain kali kalian tidak boleh sombong seperti itu, seri.” Salah satu gigi geraham angkat bicara
“Iya, kalian memang pemimpin pasukan gigi. Tetapi kita semua penting disini.” Imbuh salah satu gigi taring
“”Ma.. maafkan kami ya, teman-teman.” Ucap tim gigi seri bersama-sama
“Tidak apa-apa. Kami juga menyesal sudah membuat tuan kita sampai sakit.” Jawab salah satu gigi taring mewakili yang lain.
Sejak itu, pasukan gigi semakin kompak menjalankan tugas dengan baik. Tentu saja, semua pekerjaan akan lebih mudah jika dilakukan bersama-sama.
***
Dimuat di Lampung post tanggal 7 April 2013

Leleo dan kumis ajaibnya



Meskipun hari ini tidak begitu cerah, Leleo si ikan Lele, tetap bergembira. Ini adalah hari pertamanya menjadi penghuni sungai Asri. Setelah tiga hari Leleo melakukan perjalanan jauh dari kampung halamannya.
Sesekali Leleo bernyanyi sambil meliuk-liukan tubuhnya. Tak jarang  ia menyapa hewan-hewan lain yang ditemui di jalan. Ada Pak Penyu, Paman Gabus, Ibu Gurame,  juga serombongan anak-anak Sepat. Leleo hendak berkenalan dengan penghuni sungai yang bakal menjadi teman-teman barunya. 

“Hai, namaku Leleo. Siapa namamu?” Leleo memulai perkenalan saat bertemu dengan seekor ikan Tawes.
“Namaku Etaw,” jawab si ikan Tawes sambil tersenyum. Leleo segera membalas dengan tersenyum lebar.
“Sepertinya kamu ikan baru di sungai ini ya?” tanya Etaw sambil mengitari Leleo
“Iya, aku dari sungai yang sangat jauh, namanya sungai mata kucing. Kamu pasti kaget mendengar namanya, bukan? Tentu saja namanya terdengar aneh. Karena sungai kampungku itu kalau dari jauh terlihat berwarna hijau seperti mata kucing. Uh, tapi jangan salah kalau kau sudah masuk kedalamnya. Airnya jernih dan berlumpur. Asyik sekali untuk bermain-main seharian,” terang Leleo panjang  lebar.
“Lalu mengapa kamu pindah kemari?” tanya Etaw.
“Aku hanya bosan. Ingin sekali berpetualang ke sungai yang lebih indah. Mungkin saja bisa lebih menyenangkan,” jawab Leleo disambut anggukan kepala Etaw.
“Sombong sekali kau, ikan baru!” tiba-tiba terdengar cibiran yang ternyata berasal dari seekor  ikan Betok.
“Sombong? Oh! Maaf, aku baru sempat memperkenalkan diri. Namaku Leleo. Siapa namamu? Apakah kau juga ingin mendengar petualanganku saat melawan arus?” tanya Leleo
“Jangan sok hebat kau, anak berkumis. Lucu sekali. Masih kecil kok sudah berkumis. Hei! Kau harus tahu. Di sungai ini satu-satunya yang berkumis hanyalah Pak Lele tua. Itu pun karena dia sudah tua. Hahahaha,” ejek si ikan Betok
Tak pernah Leleo diejek seperti ini. Ejekan ikan Betok itu benar-benar membuat Leleo kesal. Ingin sekali ia marah. Tapi ditahannya.
“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Ebot,” ujar Etaw.
Ternyata nama ikan Betok itu adalah Ebot.
“Apa urusanmu, Etaw? Anak itu yang sombong!” Ebot membantah.
Leleo memilih diam dan pergi. Ah, lebih baik Etaw juga tidak usah mendekatinya lagi. Leleo jadi rendah diri. Ebot benar, Leleo sangat jelek dengan kumisnya.
Keesokan harinya, Leleo tidak lagi semangat seperti kemarin. Seharian ia hanya berdiam diri di dalam lumpur yang menjadi tempat favoritnya. Etaw yang beberapa kali membujuk Leleo pun tidak berhasil membuat Leleo kembali semangat dan ceria lagi.
Saat Leleo masih terpekur sedih, sayup-sayup didengarnya suara meminta tolong.
“Tolong! Tolong!”
Leleo segera pergi menuju sumber suara itu.
“Tolong! Anakku hilang! Anakku satu-satunya hilang! Oh, Tuhan, dia masih sangat kecil,” Ibu Gurame menangis tersedu-sedu.
 Seluruh penghuni sungai panik. Mereka sibuk mencari anak Gurame. Belum pernah terjadi kehilangan seperti ini selama sebulan terakhir. Mungkinkah anak Gurame tersangkut kail? Olala, ini mengerikan sekali.
Leleo juga ikut panik. Tapi Leleo urung bergabung bersama Etaw dan ikan lainnya mengingat ejekan Ebot kemarin. Leleo memutuskan untuk mencari anak Gurame dari arah yang lain. Ia melawan arus ke arah hulu sungai. Lantas berbelok ke tikungan sebelah kanan badan sungai. Menjejaki setiap lumpur sungai dengan kumisnya. Leleo bisa mengenali bau hanya dari kumisnya.
Leleo merasa ada sesuatu di timbunan lumpur. Ada bau yang tak asing. Leleo memastikan dengan mengendus-ngedus bau itu dengan kumisnya. Hei! Bukankah ini bau khas ikan. Leleo mulai masuk kedalam lumpur yang lumayan tebal itu. Diraba-raba sesuatu itu dengan mulut dan kumisnya. Terlihat anak Gurame tergeletak pingsan disana. Leleo menarik nafas lega setelah tahu anak Gurame masih bernafas.
Leleo segera menarik anak Gurame keluar dari timbunan lumpur. Dengan susah payah, ia membawa anak Gurame yang masih pingsan itu ke tempat ibunya.
“Itu anakku! Terima kasih, Leleo!” teriak ibu Gurame saat melihat Leleo.
Semua terhenyak dan menyusul Leleo. Beberapa membantunya membawa anak Gurame. Seluruh penghuni sungai bergembira dengan ditemukannya anak Gurame. Berkat Leleo dan kumisnya.
“Kumismu ajaib sekali, Leleo,” puji Ebot.
Leleo tersenyum mendengarnya.
***

Leleo dimuat di Lampung post tanggal 24 Maret 2013