Showing posts with label intermezo. Show all posts
Showing posts with label intermezo. Show all posts

Sunday, 15 June 2014

Family Entertraining ----> Muhammad Teladanku

Teladan terbaik. Manusia terbaik. Pemimpin terbaik. Dialah Muhammad SAW. Sirah beliau harus selalu kita baca, pelajari, tanamkan dalam diri untuk meneladani. Sajian lengkap teatrikal, musik, lagu, dan sirah Muhammad SAW yang disampaikan dengan penuh penghayatan. Sajian dari hati. Menyentuh sekali.

Insyaallah, akan kumulai menjadi keluarga pencinta rasul. Yang dalam setiap langkah terus meneladani dan menularkan keteladanan pada generasi penerus islam.


Nice qoute: Jadilah seperti JEMBATAN. Jembatan antara masa lalu yaitu sirah rasulullah dengan masa depan yaitu masa generasi sekarang. sebuah jembatan tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu atau pun masa depan. Tapi ia tahu, siapa saja yang berjalan diatasnya.

Bismillahirrahmaanirrahiim ;)

Tuesday, 20 May 2014

Flashback 15 tahun yang lalu

Hari ini. Hari terakhir menjadi pengawas US di SD Tunas Harapan tahun 2013/2014. Melihat satu persatu wajah-wajah serius khas anak-anak. Mengingatkanku pada satu momen itu. Tahun 1999. 15 tahun yang lalu.

Seorang anak perempuan.Dengan jepit rambut berwarna merah di kiri kanan poninya. Rambutnya lurus pendek sebahu. Jepit rambut memang tumben sekali ia pakai. Khusus untuk waktu 1 minggu. Agar poninya tidak mengganggu saat ia mengerjakan soal ujian.

Ah ya. Nomor urut 17. Di bangku pojok kiri paling belakang. Mata mengerjap-ngerjap. Berharap lancar mengerjakan soal demi soal.


Sesekali kening berkerut. Di akhir waktu, seorang teman yang duduk tepat didepannya berbisik pelan,
"Num, Hortikultura itu sayuran dan buah-buahan."
Itu persis satu-satunya soal yang tidak bisa ia jawab. Ada rasa ingin mengisi. Tidak jadi.

Selalu ada sayang. Selalu ada siapapun, apapun, bagaimanapun cara mereka untuk membuatmu belajar tidak jujur. Selalu ada sayang. Bahkan tiga hari yang lalu, tiga orang pengawas sekolah dari UPT tingkat kecamatan menganjurkan kami (pengawas ujian) untuk menganggap kalian sebagai "anak sendiri" dengan memberitahu jawaban. Demi Allah sayang. Belajarmu tentang kejujuran jauh lebih mahal dari sekedar nilai. Lebih mahal dari sekedar kualitas UPT yang dikhawatirkan. Lebih mahal dari sekedar. Ah, bahkan jika kalian hanya mengenal kami tiga hari saja. Kalian harus belajar satu hal...
"Nak, bu guru yakin kalian pasti bisa jujur."

Bahkan, yang lebih membuatku haru. Bu Ica memberi satu lagi pelajaran berharga. Yang kubaca dengan pasti di wajah-wajah kalian. Kalian mengerti. Kalian sungguh-sungguh mengerti...
"Tetaplah menjaga sholat 5 waktu. Bahkan walaupun teman, guru, atau orangtua tidak mengingatkanmu. Ingatkan diri sendiri. Tetap ingat Allah. Tetap ingat sholat."

Entahlah. Saat kalian satu persatu menjawab pertanyaan di hari ketiga US...
"Sebutkan cita-cita kalian satu persatu?"
"Dokter anak."
"Polisi."
"Pilot."
"Guru."
"Pengusaha."
"Sekolah Pelayaran."
Dst

Ada asa yang kubaca dari mata-mata kalian. Berjuanglah nak. Berjuanglah menajdi dokter anak yang jujur. Polisi yang jujur. Pilot yang jujur. Guru yang jujur. Pengusaha yang jujur. Nahkoda yang jujur. Jadi siapapun yang jujur.

Berjuanglah.

*Ada haru yang menyeruak saat kalian menyalamiku satu-persatu.

Monday, 30 December 2013

A.S.A

Ada asa yang kian membumbung kala suara terdengar menggebu.

Aku suka semangatmu cinta

juga lembutmu yang kurangkai menjadi senyum

terima kasih sudah membersamai waktu

kan selalu kutunggu :)

Wednesday, 26 June 2013

Sederhana

Bagi saya, sederhana adalah cukup dalam kondisi apapun. Tak tersandung dalam situasi buruk, namun juga tak silau dengan keserbaadaan. Jika setiap orang memiliki check list ‘true’ dan ‘false’, maka check list kedua setelah iman buat saya adalah ini: SEDERHANA


Sederhana. Adalah mengenal. Mengenal fungsi dan manfaat dengan baik. Tak berlebihan. Sinergi antara ilmu dan penghambaan padaNya. Ah, sederhana. Betapa saya sedang belajar mata kuliah itu pada universitas kehidupan yang kita jenjangi setiap semesternya, kawan.

Sederhana. Maka, dari orang-orang sederhanalah saya belajar. Dari semesta berikut adonan isinya. Sederhananya sang fajar adalah menghangatkan, sederhananya pagi adalah kesegaran, sederhana daun adalah diam. Sederhana malam adalah titik-titik cahaya. Juga angin yang berhembus pelan.
Sederhana. Mengilhami senyum tersangkut pada sesuatu yang kuhela dalam sepi. Diam-diam.

>>>>dari ketiga benda tercinta, yang pun dari mereka, saya belajar untuk sederhana

TEMPE
Sebuah handphone merk sony erricson tipe C100. Bertahan dalam keterbatasan adalah ilmu yang ia ajarkan. 8 tahun membersamai. Mengapa tempe? Itu ejekan adik saya untuk fisiknya yang menyerupai tempe :D tempe yang istimewa. Seistimewa mengertinya ia terhadap tuannya. Berkali-kali tempe sakit. Namun selalu kalah oleh kesembuhannya yang menakjubkan. Tempe membuat saya rindu akan suara khas sms yang tak bisa diganti-ganti. Nada singkat yang hanya berulang 2 kali. Ia mengajari sederhana dalam keapaadaan.

SIBIRU
Flashdisk pertama yang saya miliki. Butuh waktu cukup lama untuk menyisihkan uang jajan 80ribu untuk memilikinya kala itu. Waktu dan konsisten yang terbayar manis oleh rupanya yang begitu cantik dan lembut. Lihatlah, ia sampai begitu terlihat lebih tua dari usia aslinya. Saya memilikinya di awal semester kuliah, tahun 2006. Sederhana sibiru adalah setia. Sibiru sering sekali hilang, namun begitu mudah ia ditemukan. Mungkin jika bernyawa, itu artinya cinta? Entahlah. Saya yang nyata bernyawa, jelas mencintainya. Bersedih atas fungsinya yang telah mati kini. Sibiru tetap membersamai. Seperti tempe. Terlalu mahal untuk hilang.

BLACK
Black adalah pemaksa yang  saya cinta. Seringkali kami berbincang dalam diam. Tentang asa. Tentang harap. Yang begitu ia mengerti. Itulah yang menjadi alasannya membersamai. Black selalu mampu memunculkan senyum dan rasa suka yang terbit di palung hati. Kala fajar. Kala senja. embun membelai mesra. Kala angin menyeruak sesak yang indah. Black mengajari  sederhana dalam langkah Kala. Berputar dalam roda waktu. Berhenti adalah bencana. Ia akan menyeret seseorang jauh ke belakang. Black pun mengajari  sederhana dalam memberi. Sesuatu yang sedang sulit saya lakukan saat ini namun entah mengapa justru lebih banyak tertunaikan oleh mudah yang terselip ditengahnya.

Begitulah. Adakah lagi yang ingin mengajari sederhana kepada saya? Meski tak ingin, tanpa sadar saya banyak belajar sederhana dari banyak objek atom di muka bumi. Bukan tak mungkin, salah satunya adalah anda :))

Tuesday, 26 March 2013

I'm Promise


seseorang mengatakan ini pada saya:


hati terlalu sempit untuk menyimpan kesah, marah, benci, dan hal-hal buruk lainnya. jika hal-hal itu datang. berusahalah untuk melupakan dengan memikirkan hal-hal positif yang lain. jika seorang teman berbuat kesalahan, ingatlah kebaikannya.

bukan masalah beratnya isi air dari gelas yang dipegang. tapi berapa lama kita memegangnya.

it's work. i will try!

makasih seseorang :)

Monday, 11 June 2012

Sky And Me

Seminggu terakhir, aku mulai bercermin pd langit. Pagi mendung. Siang panas. Sore hujan. Malam basah. Pagi berkabut. Siang hujan. Sore basah. Malam kian dingin.

Aku sudah terbiasa bercermin pada langit. Bahkan sejak kemarin. Wajah yang sama. Pagi mendung. Siang mendung. Sore mendung. Malam mendung.

Hanya mendung katamu? Iya. Tapi karenanya, semalaman meringkuk basah kuyup.

Tapi detik ini aku merasa sehat. Tak masuk angin seperti kekhawatiranku yang berlebih. Kembali akan bercermin pada langit. Mendung? Cerah? Berkabut? Atau hujan? Tak masalah. Akan kulukis senyum diatasnya

selamat pagi dunia! :)

Friday, 16 March 2012

Skor!

100

tak ada yg tahu alasan angka itu begitu saja bertengger diatas kepalamu. Tak sekali. Berkali-kali. Ingatan kian menguat. Kau, menjadi penghuni kelas VIP dalam hidupku

99

aku mengenalmu dlm kesederhanaan. Entahlah sikapmu begitu. Skor itu menghilang satu. Mungkin ditelan prasangka yg kuyakin bukan sekedar kata.

60

mungkin karena cuaca setahun terakhir amat panas. Lantas sorenya hujan deras. Skormu menguap. Hilang tiba-tiba diguyur hujan

50

tidak ada yg sempurna. Hidupmu. Hidupku.

20

kau menggores luka. Menumpahkan duka.

0

baik-baik kawan. Tetaplah terang seperti bintang. Tak perlu menoleh lagi. Sebab percuma. Tak ada lagi aku dsana. Good bye!

Tes tes tes

"indah ya?"

apa?

"bintang yg paling terang itu"

oh, iya. Aku sering menatapnya dr sudut harap. Menikmati tiap kerlipnya yg kian menawan.

"oh ya? Kau menyukainya?"

tentu. Siapa yg tak mau berlama-lama menyusuri tiap kilaunya? Bisa kubilang, indahnya membuat mataku enggan menoleh kmana-mana.

"lantas, bagaimana dgn bintang yg itu?"

yang mana? O yg nyaris tak terlihat itu?

"iya. Apa kau menyukainya?"

mungkin.

"mungkin?"

iya, mungkin.

"kau tahu, aku justru menyukai bintang itu"

yang mana? Yg nyaris tak terlihat?

"iya. Menatapnya lama-lama seperti berkaca pd hati"

maksudmu?

skor

100

tak ada yg tahu alasan angka itu begitu saja bertengger diatas kepalamu. Tak sekali. Berkali-kali. Ingatan kian menguat. Kau, menjadi penghuni kelas VIP dalam hidupku

99

aku mengenalmu dlm kesederhanaan. Entahlah sikapmu begitu. Skor itu menghilang satu. Mungkin ditelan prasangka yg kuyakin bukan sekedar kata.

Thursday, 1 March 2012

Even if the world makes me cry, I’m okay....

Selalu ada jeda waktu. Yang entah kenapa selalu terisi tentangmu, cinta.

Kau siapa? seperti apa? Bagaimana? Sedang apa? Tanya-tanya yang selalu berputar seperti kaset lama yang tak jua rusak. Usiaku mendekati angka dua puluh lima, cinta. Bisikku yang melahirkan tanya baru, lalu usiamu? usia hatimu? Usia yang menunjukkan seberapa dewasanya kau menilai sesuatu, seseorang, dengan hatimu. Ah, cinta. Beginilah yang bergema tiap kali ada tanya-tanya itu

*It doesn’t matter if I’m lonely. Whenever I think of you
A smile spreads across my face
It doesn’t matter if I’m tired
My heart is filled with love
bolehkah kujadikan bayangan sosokmu sebagai charger senyumku? Mungkin semu,tapi setidaknya bisa sedikit menggeser senyumku sesaat. Lupa akan rasa sakit, khawatir, harap, cemas, yang kian akrab denganku

Today I might live in a harsh world again
Even if I’m tired, when I close my eyes, I only see your image
The dreams that are still ringing in my ears
Are leaving my side towards you


cinta, tak masalah
Sebelum kau benar-benar datang. Percayalah, aku masih mampu melukis senyum kala pagi juga merangkumnya kembali kala hari telah genap  usianya. Cinta, percayalah. Meski kau masih saja bernama mimpi

Everyday my life is like a dream
If we can look at each other and love each
I’ll stand up again


To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times
For me, hope is a dream that never sleeps

Like a shadow by my side you always
Quietly come to me
To see if I’m hurt, to see if I’m lonely everyday
With feelings of yearning, you come to me

Even if the world makes me cry, I’m okay
Because you are always by my side
Like dust, will those memories change and leave?
I’ll keep smiling to ease my heart

Everyday my life is like a dream
If we can look at each other and love each
I’ll stand up again

To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times
For me, hope is a dream that never sleeps

No matter how many times I stumble and fall
I’m still standing like this
I only have one heart
When I’m tired you become my strength
My heart is towards you forever

So I swallowed the hurt and grief
I’ll only show you my smiling form
It doesn’t even hurt now

I’ll always hold on to the dreams I want to fulfill with you
I’ll try to call for you at the place I cannot reach
I love you with all my heart

Cinta, semoga kau berbeda. Semoga

(*Song: Hope Is The Dream Doesn’t Sleep)

Prolactin

hei kamu! iya! kamu!!! sejak kapan kamu berani muncul kian banyak akhir-akhir ini????!!! siapa yang mengizinkan kamu mengekspansi wilayah lantas secara sepihak mengakuinya sebagai daerah jajahan?????!!!!

hei! kamu!!! nama kamu prolactin?! apa hak kamu hah?!!!!!

membuat saya terkesan lucu hanya karena hal remeh temeh semacam ini! membuat saya terlihat lemah! mau kamu apa????!!!!!

Friday, 24 February 2012

Waktuku Usiaku

Ada masanya, ketika aku sangat ingin mengeluh.
ini
itu
apa
siapa
begini
begitu
mengapa
siapa
mereka
dia
kamu
aku
lelah
sangat
payah

tapi, aku tak ingin memuntahkan itu. sampah-sampah yang hanya akan kumuntahkan pada sunyi.


kututup saluran sampah itu untuk sementara (facebook). agar tak ada celah bagiku mengeluh.

tak perlu orang lain tahu apa yang sedang kukerjakan sekarang

biarlah mereka menganggapku gagal. kurang kerjaan. bermalas-malasan. tidak produktif. atau apa saja. terserahlah

hanya Allah yang menilai seberapa produktif waktuku

aku hanya menyadari satu hal: waktu tidak bisa untuk main-main!

aku sedang

sedang berlari

dalam sunyi

Cahaya Cahaya Kita (1)

Hari itu, kita akan saling debat mempersoalkan satu hal. Tentang anak-anak kita. Debat yang dibumbui oleh satu sendok tawa, tiga siung rajuk, atau mungkin dua potong kesal agar lebih terasa. Itu bukan bertengkar. Kita kembali bermain puzzle-puzzle yang tak akan pernah kita bosan mainkan.

Kukatakan padamu aku ingin lima anak. Oke. Mungkin kau keberatan. Apa? Kau ingin sebelas? Tanyaku ditengah usulmu yang menginginkan tiga anak saja. Aku tertawa melihat kau melongo saat itu.

Baiklah sayang. Tawar menawar selanjutnya akan kita gelar pada doa-doa padaNya. Katakanlah agar lebih mudah memberi perumpamaan. Aku mengalah untuk menyamakan suara denganmu. Tiga anak. Aku mengusulkan nama-nama indah berisi doa ini pada mereka: Nur, Ray, Hikari. Kalau kau kurang suka, aku tak akan memaksa. Hanya akan kembali meminta agar aku nanti bisa memanggil mereka dengan panggilan itu. Tak apa kan?

Mengapa kau ingin menamai mereka dengan nama-nama itu? Tanyamu sembari memasang senyum. Seperti yang sudah kau duga. Aku ingin mereka bisa memiliki sifat layaknya sinar. Cahaya. Pelita. Tidak untuk hidup mereka sendiri. Tapi juga untuk orang lain. Saat ada yang bertanya pada mereka apakah arti nama mereka. Nur, ray, dan hikari akan kompak menjawab: cahaya.

Nur, ray, dan hikari. Hey bukankah kau tidak bisa melafalkan huruf r? tanyamu yang membuatku tersentak lantas manyun. Lalu? Aku akan memanggil mereka dengan lafal yang lebih mudah tapi penuh cinta: nun, ley, hika. Hey! Sah-sah saja bukan?

Nur,ray, dan hikari akan tumbuh bersama zaman. Aku tahu. Kau juga tahu. Zaman mereka dan zaman kita tentu berbeda. Lesatan teknologi atau perilaku masyarakat yang mungkin membuat kita geleng-geleng kepala. Nur, ray, dan hikari mau tak mau harus menjalaninya. Menjalani proses yang tentu akan membuatmu pusing dan aku terus mengomel

Saat mereka sedang manis-manisnya. Kelelahan kita akan terbayar dengan tampang lugu dan tatapan polos mereka. Kita tentu tak akan merasa lelah dengan itu. Masih memiliki banyak energi hingga ke dongeng-dongeng pengantar tidur mereka. Bukan dongeng tentang kura-kura yang menipu si kancil saat lomba lari. Namun dongeng kura-kura yang dapat menang karena kesalahan kancil itu sendiri. Dongeng-dongeng warisan ibuku juga ibumu. Lebih banyak kisah-kisah indah dari zaman Rasulullah mulia. Nabi-nabi. Ulama dan orang-orang shaleh. Ah, sepertinya aku harus kembali membaca kisah-kisah itu dari sekarang.  

Tentu, sayang. Kita tentu akan mengenalkan nur, ray, dan hikari dengan Rabb semesta alam sedini mungkin. Memunculkan tanya-tanya dari pikiran dan lisan mereka sendiri. Mengapa begini mengapa begitu. Mengapa ada siang ada malam. Mengapa buah apel ada yang merah dan ada yang hijau. Mengapa bentuk bulan selalu berubah-ubah. Dan pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya memang terus ada sepanjang zaman. Terus ada hingga hari akhir tiba. Terus ada selama semesta dan seisinya terus khusyu pada orbitNya. Saat aku kehabisan kata untuk menjawab tanya-tanya cerdas mereka. Aku akan melirikmu yang dengan senyum merekah segera mengambil peranku kala itu. 

Aku begitu khawatir. Dapatkah kita mengenalkan mereka dengan cinta? Cinta untukNya, untuk RasulNya, untuk kita, untuk sesama. Ah sayang, aku begitu was-was sampai berdegup kecang jika mengingat mereka harus menjalani hidup di zaman itu jika tanpa kendali agama yang kuat. Kita bisa, pasti.

Nur, ray, dan hika. Aku segenap upayaku dapat mengenalkan mereka pada apa yang kita sebut pondasi hidup: islam. Doa-doa saat makan, saat tidur, bacaan shalat dan mengaji yang akan sangat lucu saat mereka mencoba melafalkannya. Gerakan shalat yang mereka tiru. Lagu aku cinta Allah yang kuharap mampu mengalahkan lagu-lagu kotor yang bahkan sudah menjamur detik ini. Ah sayang, jangan sampai lagu-lagu selevel pelacur hamil duluan, atau cinta satu malam itu sempat mereka hapalkan. 

Nur, dalam bayanganku. Ia adalah putri tertuamu. Sifatnya tegas namun ramah. Banyak tanya ini itu. Selalu ingin tahu. Ia mungkin mewarisi sifat keras kepalaku (atau juga kamu?) tak masalah sayang, terkadang keras kepala itu perlu.
Ray lain lagi, ia meledak-ledak seumpama semangat kala hari berganti. Begitu percaya diri namun tetap rendah hati. Nakal? Tentu. Aku lebih suka jika ia nakal seperti anak laki-laki pada umumnya. Nakal yang normal. Nakal yang membawanya dalam proses belajar. Ia akan pulang setiap sore dengan tibuh dan baju kotor. Aku tak akan memarahinya. Namun sesekali menyuruhnya untuk mencuci sendiri bajunya itu. Kemandirian dan tanggung jawab harus sedini mungkin kita tanamkan.

Lalu hika? Tanyamu memotong pandanganku yang menjauh. Aku tersenyum melihat wajahmu yang mulai penasaran dan tertarik kala itu.

Hika. Ia sangat manis dan periang. Melihat matanya seperti melihat cahaya senja yang menghangatkan. Mungkin kita akan kewalahan dengan sifat dan sikapnya. Kewalahan yang akan kita nikmati dengan suka cita bukan?

Lalu? Dengan segala keistimewaan mereka. Tak mengapa jika aku menginginkan dua lagi nanti. Haha. Mungkin kau akan tertawa. Aku sudah memikirkan ini sejak detik ini. Bahkan sejak aku belum tahu siapa kamu, sayang.

Baiklah mungkin ini mimpiku saja yang kuharap menjadi nyata.

Lihatlah kelak mereka akan beranjak remaja. Ada cita. Ada cinta. Banyak hal yang ingin kutulis tentang episode ini.... tentang mimpi tentang cinta. semoga

bersambung

Saturday, 14 January 2012

Kepada YTC Fadila Hanum

-Untukmu dalam ruang 14 Januari 2022-

Assalamu'alaikum num. apa kabar? masih ingat saya? saya yang bukan hanya namanya yang sama persis dengan kamu. tapi juga wajahnya, sifatnya, takdirnya, dirinya adalah kamu.

Iya saya. saya adalah dirimu 10 tahun yang lalu. dirimu yang entah sejak kapan mulai ragu dengan mimpi yang mulai kau rajut dengan susah payah. masih ingat kan? dengan dadamu yang terasa sesak sampai nafasmu harus kau ambil satu-satu kala itu. dengan airmatamu yang kau paksa berhenti namun hanya membuatnya bertambah deras alirannya. masih ingat kan?

Kamu tau num? jujur, saya masih ragu. masih khawatir. bahkan mulai mempertanyakan apakah kamu, apakah saya mampu? jujur lagi, saya mulai ingin membenci dirimu, diriku, diri kita. ingin. tapi tidak mungkin bisa kan saya setega itu? saya tau, tidak ada yang bisa mengerti diri kita selain diri kita sendiri. tidak perlu lagi kau beritahu itu. kamu kasihan. saya kasihan. kita kasihan.

Thursday, 12 January 2012

cinta adalah ia

Cinta adalah ia yang tersenyum bersamaku menikmati hujan.
Berlari-lari.
Tertawa-tawa.
Meski kuyup.
Ia yang berdiri disampingku menikmati senja.
Menepuk pundakku.
Berkata, cahaya itu...besok akan datang lagi, percayalah


Cinta adalah ia yang selalu berucap:
Tak apa, semua akan baik-baik saja
Tidak masalah, lain kali pasti ada jalan
Kamu pasti bisa, masalah ini pasti bisa dilewati

Saturday, 31 December 2011

bisakah?

Dengan pedenya saya pernah bilang (dengan diri sendiri). Bahwa emosi saya sangat bisa saya kontrol mulai sekarang. Tidak lagi mudah marah dan melakukan tindakan-tindakan bodoh. Mampu bersikap tenang.

Dengan kepala dingin mulai kembali merunut sebab, mengapa saya sampai sekesal ini, mengapa saya semarah ini. Lantas mencoba menyelesaikannya dengan baik-baik.

Ah, ternyata itu masih teori teman. Saya masih tak bisa mengontrol emosi. Mengontrol ekspresi tidak suka pada sesuatu atau pada sesiapa. Terlalu jelas. Saya bisa begitu saja panas sampai ke ubun-ubun. Mungkin tidak perlu dilihat. Saya saja tidak berani melihat cermin.

Monday, 14 November 2011

Begini saja



Lebih suka jika begini

tak ada alasan untukku menghalalkan yang belum halal

lebih tenang jika begini

jangan paksa aku untuk mengubahnya...

Tuesday, 25 October 2011

Seperti Hujan

Seperti Hujan


Lelahkah kau hujan?
Melalui semua namun hanya berakhir tak berarti
Lelahkah jika perjalananmu dihargai sia-sia?
Kau masih harus menunggu matahari
Mulai dari awal lagi
Lelahkah?
Seharian ini aku tidak kemana-mana. Tidak ada yang lebih menyenangkan dilakukan ketika hujan turun seharian selain berdiam diri di rumah. Seperti hari ini, aku masih betah duduk berlama-lama di teras rumah. Memperhatikan titik-titik hujan yang menari pelan. Tak secepat tadi. Ah, memperhatikan hujan seperti memperhatikan diri sendiri.
Ekor mataku mengikuti arah titik-titik hujan yang tumpah di sepanjang saluran drainase. Selokan yang melintas di sepanjang rumahku. Aku tersenyum miris. Melihat kenyataan bahwa titik-titik hujan itu jatuh dan mengalir begitu saja kedalam selokan. Sia-sia bukan? Pikirkanlah, setelah melewati proses yang panjang. Mulai dari penguapan hingga menggumpal menjadi awan lantas turun menjadi titik bening air hujan. Ia jatuh begitu saja. Di selokan. Tidak di dedaunan atau meresap kedalam tanah. Hanya di selokan. Tidak di lautan atau danau tempat hidup penghuni-penghuninya. Ya, hanya di selokan. Berkejar-kejaran membentuk gelombang pergi entah kemana.  Benar-benar berakhir hanya di selokan.
Seperti hujan...yang jatuh di selokan...

Seperti itulah aku kini. Cukup lama aku berproses. Berusaha bisa mandiri tanpa lagi menjadi beban kedua orangtua. Tahun lalu, aku lulus dari program sarjana di Universitas Lampung. Setelahnya tentu, seperti lulusan perguruan tinggi kebanyakan, aku mencari lowongan kerja. Beberapa kali aku memasukkan lamaran, mengikuti seleksi penerimaan. Namun hasilnya tidak begitu baik. Beberapa kali juga aku menolak memasukkan lamaran dengan berbagai pertimbangan. Lantas pada satu titik, aku memutuskan untuk lebih berkonsentrasi usaha mandiri. Ya, mencoba usaha sendiri. Aku memulainya dengan membuka bimbingan belajar juga budidaya ikan air tawar. Dengan modal pas-pasan juga komentar-komentar negatif dari berbagai sudut aku tetap menjalaninya. Singkat cerita, kedua usaha itu tidak menghasilkan. Lantas untuk kedua kali aku coba kembali membeli benih ikan, lantas kembali membudidayakannya. Lagi-lagi, aku gagal. Untuk ketiga kali aku coba lagi. Masih gagal.
Begitulah, bukan cerita yang bisa dibanggakan memang. Pun usaha yang kulakukan belum ada apa-apa dibandingkan dengan berbagai kisah nyata para pengusaha yang kini sudah berhasil. Mereka gagal berkali-kali. Jatuh sudah menjadi kebiasaan mereka. Pun diremehkan orang lain juga sudah menjadi sarapan mereka. Mungkin aku memang lemah. Tidak cukup tangguh untuk bisa bersahabat dengan gagal.
Seperti hujan...yang jatuh di atap rumah....
Dalam suasana seperti ini, aku terbawa lebih dalam. Seperti ingin melengkapinya menjadi rasa yang sedih plus plus. Aku kembali mengingat-ingat beberapa episode ke belakang. Satu perjuangan yang tidak bisa kubilang mudah. Aku mulai mengambil SKS usul penelitian di tahun ketiga kuliah. Dengan semangat empat lima aku mengajukan judul penelitian kepada ketua jurusan. Satu bulan kemudian, persetujuan judul penelitianku keluar. Aku mendapat dua orang dosen pembimbing, yang sama-sama bergelar profesor. Kejadian yang cukup langka menurut bebrapa komentar kakak-kakak tingkat. Dua tipe dosen dominan yang dijadikan satu. Pasti susah, begitu komentar mereka.
Aku tahu, bukan pilihan tepat jika saat itu aku menyerah. Aku sama sekali belum mencoba.  Waktu itu, aku cukup percaya diri untuk menjalani semua. Pembimbing pertamaku, profesor bidang pembiayaan pertanian. Sedangkan pembimbing keduaku, profesor di bidang irigasi dan perairan. Mereka sama-sama tipe dominan, terbukti memang. Dalam kurun waktu lima bulan banyak sudah yang kulakukan. Namun aku seolah hanya berjalan di tempat. Dari pembimbing pertama ke pembimbing kedua tidak pernah bisa terhubung. Maksudku, dari draft usul penelitianku kedua dosen pembimbingku tidak pernah sejalan. Bisa ditebak, aku kewalahan ditengah-tengah.
Banyak kejadian yang membuatku terus-terusan sport jantung dan bahkan sering menangis. Dua jam diminta menjelaskan mengenai sistem agribisnis di hadapan dosen pembimbing, tentu dengan satu komentar: buruk. Lantas selama empat jam -di hari libur- aku pernah disetrap diruangan beliau. Diberi tugas memikirkan baik-baik sebab mengapa aku disetrap selama itu. Setelahnya aku baru tahu kalau aku terkunci di dalam gedung fakultas. Parahnya ternyata dosenku lupa, setelah mengajar beliau langsung pulang. Dalam suasana gelap dan tidak ada pulsa di hp aku benar-benar menunggu beliau datang dan menyelamatkanku. Syukurlah, sebelum adzan magrib berkumandang beliau datang.
Dua kali dalam seminggu aku rutin konsultasi. Tapi bisa dibilang, penelitianku stagnan. Tidak ada perubahan apa-apa. Aku akhirnya mengusulkan untuk prasurvey ke lokasi penelitian. Tapi apa yang kudapat? Tidak ada P3A. Tidak ada kelompok tani yang dimaksud. Sepulang dari sana, aku diberi tugas untuk kembali ganti judul penelitian dan mulai dari awal. Lantas dosen pembimbing pertamaku menyuruhku meminta pengajuan pergantian pembimbing dua. Beliau keberatan jika harus bersama-sama dengan pembimbing keduaku yang sekarang. Dengan asa yang nyaris mati, aku menghadap ketua jurusan memintanya pergantian dosen pembimbing –tidak hanya pembimbing kedua, pembimbing pertama juga-. Lama aku berfikir, tidak bisa seperti ini terus-terusan. Mungkin memang kesalahan ada padaku yang tidak memahami dan kurang menangkap pengarahan dari dosen pembimbing. Akhirnya aku pemutihan. Dikabulkan. Seperti hujan yang jatuh di atap rumah. Turun kebawah lantas kembali keselokan. Sia-sia. Sembilan bulan berlalu tanpa bekas.
Seperti hujan...yang jatuh di bahu orang...
Cukup susah bagiku untuk kembali mengumpulkan semangat disaat teman-temanku yang lain sudah mulai seminar hasil bahkan ada beberapa yang tinggal menunggu wisuda. Aku mencoba tetap tenang dan fokus. Tidak mungkin rasanya aku menampakkan wajah sedih ditengah kebahagiaan mereka. Aku mulai mengumpulkan bahan penelitian. Datang ke dinas-dinas setempat meminta data sekunder. Mulai kembali membuat kata demi kata di usul penelitian. Fokus konsultasi dengan dua pembimbing yang baru. Alhamdulillah, aku masih mendapat kemudahan ditengah-tengah ini semua. Aku mendapat dua pembimbing yang sangat membantu. Membebaskanku untuk menggali penelitian dan seperti amat tahu bahwa aku mengejar waktu (terima kasih pak Teguh dan bu Suryati). Singkat cerita, aku sudah menjalani langkah awal yang menurut sebagian besar dosen adalah setengah dari penelitian yaitu seminar usul penelitian.
 
Di bulan januari tahun 2010, tahun kelima aku menyandang gelar sebagai mahasiswa, akhirnya aku bisa turun lapang. Aku ingat sekali hari itu, berada di tengah-tengah hektaran sawah yang menguning siap di panen. Hari itu fikiranku seperti ngehang namun terus mengendarai laju kendaraan roda duaku. Aku sedang diatas motor, baru saja pulang dari sebuah desa di kecamatan trimurjo kabupaten lampung tengah. Berjarak sekitar 20 km dr rumahku. Sesak rasanya saat itu. Sekuat tenaga kutahan genangan airmata yang sedari tadi hendak tumpah. Tidak. Aku tidak perlu menangis. Tentu. Untuk apa aku menangis?
Tiba-tiba ada sms masuk. Dari temanku. Hari ini dia akan ujian sidang. Smsnya tertulis:
“agey...saya sudah sidang. Alhamdulillah gey selesai^^.”
Aku ikut bahagia. Tentu. Dia sahabatku. Sekaligus partner hati dan episode hidup yang kami namai perjuangan. Tapi, entah kenapa seketika airmataku tumpah. Aku menangis cukup keras. Untunglah kaca helmku gelap, sehingga aku bisa puas menangis. Aku iri? Mungkin. Saat itu yang terlintas dibenakku adalah satu kenyataan pahit. Di saat temanku sudah diakhir perjuangan kuliah. Aku sedang disini. Berdua-duaan dengan mendung yang sebentar lagi melahirkan hujan. Disaat dia bersukacita. Aku disini. Seharian berpanas-panas tanpa hasil.
Aku turun lapang untuk mewawancarai para petani padi. Khususnya para petani yang menggunakan benih dengan jenis tertentu. Dari data yang kudapatkan dari dinas-dinas setempat di lokasi inilah petani yang kumaksud berada. Tapi saat aku mendatangi lokasi. Keadaannya diluar dugaan. Tidak ada petani yang menggunakan benih itu. Tidak ada satu orang pun. Rasanya sendi-sendi tulangku lolos satu-satu kala itu.
Seperti hujan...yang jatuh di kubangan...
Puas menangis. Aku mulai bisa berfikir jernih. Aku sudah memutuskan tidak dulu memberitahukan keadaan di lapangan dengan kedua pembimbingku. Di hari kedua, aku mendatangi kedua belas balai desa di kecamatan trimurjo lampung tengah. Aku mencari tahu data petani dan benih apa yang mereka pakai di musim tanam terakhir kali. Aku mencari yang memakai benih bernas. Dan hasilnya, ada! Ada dua kelompok tani yang memakainya. Aku segera kesana. Dan merombak kembali isi kuisioner penelitianku.
Bukan hasil yang menggembirakan jika kemudian aku bisa lulus di bulan september tahun 2010. Genap lima tahun.
Seperti hujan...aku...
Ah, hujan sudah akan usai. Ia hanya meninggalkan sedikit demi sedikit titik-titiknya. Kuperhatikan lagi titik-titik yang jatuh ke selokan yang masih beraliran deras. Aku mendekat ke selokan. Mengikuti arus itu sepanjang jalan. Aku benar-benar ingin tahu sampai mana ia bermuara.
Sampailah aku disebuah bendungan. Cukup besar. Bisa kusaksikan air meluap-luap menuju muaranya. Hey, seperti danau. Tampak cukup tenang. Disinikah mereka bermuara? Berkumpul di dalam sebuah danau? Ekosistem danau mulai kuperhatikan. Aku terhenyak. Sadar oleh kenyataan.
Titik-titik hujan tadi. Tidak lantas sia-sia. Mereka terus berjalan, mengikuti arus hingga kembali ke tempat tujuan. Tidak sia-sia. Mereka menjadi tempat hidup para mahluk di danau. Tidak sia-sia.
Aku kembali berjalan kerumah. Tampak olehku serombongan anak-anak berlari-lari riang. Mereka basah kuyup. Aku ikut tersenyum lebar melihat tingkah mereka. Tertawa-tawa, sengaja menjatuhkan diri ke dalam kubangan. Juga serombongan anak yang bermain sepakbola. Juga basah kuyup. Hujan yang jatuh di bahu orang. Hey! Bukankah titik-titik hujan yang menjatuhi mereka-anak-anak ini- juga tidak sia-sia? Titik-titik hujan itulah yang membuat mereka begitu bahagia. Tertawa-tawa. Pun jika jatuh ketanah akan meresap. Menjadi sumber mata air kehidupan mahluk lainnya.
Aku berkali-kali mengucap istighfar. Atas pikiran yang terus-terusan meraja selama ini. Bukankah penelitianmu adalah berharga? Kau berhasil menggunakan alat analisis diskriminan yang pertama di jurusanmu berada, itu yang dikatakan ketua jurusan yang merangkap dosen pembahas. Bukankah kau mendapat nilai bagus atas kerja kerasmu? Bukankah tak masalah jika nyatanya usul penelitianmu di kopi paste sahabatmu lantas kau harus mengganti keseluruhannya? Bukankah kau melihat itu jauh lebih baik hasilnya? Kau berhasil. Tidak sia-sia.
Dan kini, jika masih jauh dari kata –menjadi orang-. Bukankah kau masih kuat untuk menuju ke arah sana. Siapkah kembali berproses menjadi titik hujan? Kembali menguap saat ini juga? Bukankah proses yang Dia nilai, bukan hasil. Buaknkah selain sungguh-sungguh masih ada jarak diantaranya yaitu sabar. Sabarlah dan terus berproses. Sampai satu titik. Sampai kau menjadi titik hujan yang bermanfaat. Entah harus melalui proses yang keberapa kali. Menjadilah hujan. Tak hendak menghindari. Tapi terus menjalani. Lagi dan lagi.
Aku tersenyum lagi kali ini. Tidak lagi miris. Terima kasih hujan. Hei! Kau yang jatuh di selokan, bahu orang, atap rumah, ataupun kubangan. Sungguh, kau sama sekali tidak sia-sia :)
Tidak lelah
Melalui semua selalu memiliki arti
Tidak lelah
Tidak sia-sia
Meski masih harus menunggu matahari
Mulai dari awal lagi
Tidak boleh lelah
 
 

Monday, 10 October 2011

sesuatu

ga sengaja nyetel tipi. liat ada hyun bin di sctv. ooo dia ke jakarta rupanya

lucunya, diajarin syahrini ngomong indonesia:

indonesia....sesuatu....

ada-ada aja

:D

O.Em.Ji

aljabar, gradien, persamaan linier, phythagoras....ternyata ada di kelas 2 SMP ya (-.-!!)

dulu kok kayak ga ada masalah

eh sekarang liat2 susah jg

hadeh...bisa ga ini num?

*kejedot tembok*