Hari itu, kita akan saling debat mempersoalkan satu hal.
Tentang anak-anak kita. Debat yang dibumbui oleh satu sendok tawa, tiga siung
rajuk, atau mungkin dua potong kesal agar lebih terasa. Itu bukan bertengkar.
Kita kembali bermain puzzle-puzzle yang tak akan pernah kita bosan mainkan.
Kukatakan padamu aku ingin lima anak. Oke. Mungkin kau
keberatan. Apa? Kau ingin sebelas? Tanyaku ditengah usulmu yang menginginkan
tiga anak saja. Aku tertawa melihat kau melongo saat itu.
Baiklah sayang.
Tawar menawar selanjutnya akan kita gelar pada doa-doa padaNya. Katakanlah agar
lebih mudah memberi perumpamaan. Aku mengalah untuk menyamakan suara denganmu.
Tiga anak. Aku mengusulkan nama-nama indah berisi doa ini pada mereka: Nur, Ray,
Hikari. Kalau kau kurang suka, aku tak akan memaksa. Hanya akan kembali meminta
agar aku nanti bisa memanggil mereka dengan panggilan itu. Tak apa kan?
