Sunday, 29 December 2013

Alea kok bisik-bisik



Hanina kesal sekali. Alea sahabatnya, sudah dua hari ini bersikap menyebalkan. Alea sekarang suka bisik-bisik dengan Rizka. Padahal Hanina duduk disamping Alea.
Mereka bisik-bisik sepanjang jam sekolah. Sebelum bel masuk. Saat belajar. Saat istirahat. Bahkan saat akan pulang. Pasti yang mereka bicarakan Hanina. Siapa lagi? Rizka dan Alea bisik-bisik sambil melirik kearah Hanina. Setelah bisik-bisik, mereka tertawa cekikikan.
Tidak hanya itu. Alea dan Rizka kepergok sedang menulis sesuatu di kertas putih besar. Saat Hanina dekati. Mereka buru-buru membereskan dan memasukkan kertas itu kedalam laci. Mengapa sekarang Alea lebih akrab dengan Rizka? Padahal selama ini sahabatnya Alea ya Hanina. Huh, menyebalkan.

“Kenapa kalian bisik-bisik sih?” tanya Hanina. Ini tanya yang kedelapan sepanjang hari. Tapi Alea dan Rizka tidak mau menjawab. Hanya cuek dan pergi begitu saja. Hanina jadi bertambah kesal. Mengapa Alea jadi berubah seperti itu? Apa salah Hanina?
Awas saja. Alea dan Rizka akan Hanina adukan ke bu Warmi. Lihat saja. Biar mereka tahu rasa.
“Bu, Alea bisik-bisik sama Rizka. Pasti mereka lagi ngomongin Hanina. Pasti mereka lagi menjelek-jelekkan Hanina, bu.” Lapor Hanina sembari mendekati meja bu Warmi.
“Hanina, tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Mungkin saja mereka memang sedang membicarakan Hanina. Tapi bukan berarti menjelek-jelekkan. Mungkin saja Alea dan Rizka sedang berbisik-bisik bilang, kok Hanina itu cantik sekali ya. Baik sekali ya.”  Bu Warmi tersenyum sambil mengacak-acak kerudung Hanina.
Bibir Hanina mengerucut cemberut. Tidak mungkin lah mereka bisik-bisiknya seperti itu.
“Alea dan Rizka bisik-bisiknya sambil tertawa cekikikan, bu. Tidak mungkin bilang Hanina cantik. Hanina baik. “ Bibir Hanina lebih mengerucut. Bu Warmi tersenyum geli melihatnya.
“Baiklah. Agar lebih jelas,  Hanina panggil Alea dan Rizka kesini.”
“Baik bu.”
Alea dan Rizka takut-takut melangkah ke meja bu Warmi. Hanina tersenyum puas melihatnya. Suruh siapa bisik-bisik begitu. Biar saja mereka diomeli bu Warmi, ucap Hanina dalam hati.
“Alea, Rizka. Benar kalian bisik-bisik membicarakan Hanina?”
Alea dan Rizka mengangguk
“Kalian menjelek-jelekkan Hanina?”
Kali ini, Alea dan Rizka mereka menggeleng
“Mereka tidak mau ngaku, bu. Harus dipaksa.” Seru Hanina kesal
“Alea dan Rizka, walaupun kalian tidak menjelek-jelekkan Hanina. Bisik-bisik di dekat teman itu juga tidak baik. Mengapa tidak baik? Karena bisik-bisik seperti itu akan membuat teman kalian berpikiran yang bukan-bukan. Merasa dijelek-jelekkan karena kalian bisik-bisik berdua sedangkan hanina ada di dekat kalian.”
Alea dan Rizka diam membisu. Mereka menunduk dalam-dalam
“Tidak seperti itu lagi ya, nak. Kalian kan teman baik?”
“Iya bu.”
“Nah, sekarang silahkan saling memaafkan.”
Alea dan Rizka mengulurkan tangan ke Hanina. Hanina senang sekaligus lega.
***
Hanina uring-uringan lagi hari ini. Meskipun kemarin Alea dan Rizka sudah meminta maaf. Tapi tetap saja Alea bersikap sama. Kali ini bukan bisik-bisik. Tapi menjauh saat Hanina dekati. Huh, rasanya Hanina ingin menangis deh.
Hanina melangkah lemas ke tempat duduknya. Bangku Alea masih kosong. Bangku Rizka juga. Mereka dimana? Apakah sedang membicarakan Hanina lagi?
Tak lama, bel masuk setelah istirahat terdengar. Hanina hendak mengambil alat tulis dan buku di dalam laci mejanya. Saat Hanina merogoh laci, tangannya merasakan sesuatu. Seperti menyentuh karton yang digulung. Apa ini?
Segera saja karton itu diambil Hanina. Tak lama, ia sudah membukanya. Disana tertulis besar-besar
Hanina....selamat ulang tahun ya....
Dibawah tulisan besar itu tergambar tiga orang anak perempuan bergandengan tangan sambil tersenyum. Mata hanina membelalak bahagia. Matanya berkaca-kaca. Ternyata Alea dan Rizka merencanakan kejutan ulang tahun untuk Hanina. Satu buah lukisan penuh warna bergambar mereka bertiga. Ternyata ini kertas putih besar yang disembunyikan darinya.
Hanina menyesal sudah berburuk sangka dengan Alea dan Rizka. Ternyata mereka sahabat yang baik.
Saat Hanina masih terharu melihat lukisan itu. Alea dan Rizka sedang berjalan kearahnya sambil tersenyum senang.
“Maaf ya, Hanina. Kami sempat membuatmu kesal. Habisnya kamu tidak pergi-pergi, sih. Selalu ada disamping kami. Jadi susah mau membuat kejutan ini.” seru Alea disambut anggukan kepala Rizka.
Hanina tersenyum lebar. Ia memeluk kedua sahabatnya itu
“Makasih ya teman-teman. Maaf juga karena Hanina sempat buruk sangka kemarin.”
Alea dan Rizka mengangguk kompak. Mereka bertiga masih berpelukan bahagia.
***
Selesai

**Alea kok bisik-bisik adalah cerita anak yang  pertama kali lolos di media massa: Lampung  Post tanggal 18 November 2012

Wednesday, 26 June 2013

Sederhana

Bagi saya, sederhana adalah cukup dalam kondisi apapun. Tak tersandung dalam situasi buruk, namun juga tak silau dengan keserbaadaan. Jika setiap orang memiliki check list ‘true’ dan ‘false’, maka check list kedua setelah iman buat saya adalah ini: SEDERHANA


Sederhana. Adalah mengenal. Mengenal fungsi dan manfaat dengan baik. Tak berlebihan. Sinergi antara ilmu dan penghambaan padaNya. Ah, sederhana. Betapa saya sedang belajar mata kuliah itu pada universitas kehidupan yang kita jenjangi setiap semesternya, kawan.

Sederhana. Maka, dari orang-orang sederhanalah saya belajar. Dari semesta berikut adonan isinya. Sederhananya sang fajar adalah menghangatkan, sederhananya pagi adalah kesegaran, sederhana daun adalah diam. Sederhana malam adalah titik-titik cahaya. Juga angin yang berhembus pelan.
Sederhana. Mengilhami senyum tersangkut pada sesuatu yang kuhela dalam sepi. Diam-diam.

>>>>dari ketiga benda tercinta, yang pun dari mereka, saya belajar untuk sederhana

TEMPE
Sebuah handphone merk sony erricson tipe C100. Bertahan dalam keterbatasan adalah ilmu yang ia ajarkan. 8 tahun membersamai. Mengapa tempe? Itu ejekan adik saya untuk fisiknya yang menyerupai tempe :D tempe yang istimewa. Seistimewa mengertinya ia terhadap tuannya. Berkali-kali tempe sakit. Namun selalu kalah oleh kesembuhannya yang menakjubkan. Tempe membuat saya rindu akan suara khas sms yang tak bisa diganti-ganti. Nada singkat yang hanya berulang 2 kali. Ia mengajari sederhana dalam keapaadaan.

SIBIRU
Flashdisk pertama yang saya miliki. Butuh waktu cukup lama untuk menyisihkan uang jajan 80ribu untuk memilikinya kala itu. Waktu dan konsisten yang terbayar manis oleh rupanya yang begitu cantik dan lembut. Lihatlah, ia sampai begitu terlihat lebih tua dari usia aslinya. Saya memilikinya di awal semester kuliah, tahun 2006. Sederhana sibiru adalah setia. Sibiru sering sekali hilang, namun begitu mudah ia ditemukan. Mungkin jika bernyawa, itu artinya cinta? Entahlah. Saya yang nyata bernyawa, jelas mencintainya. Bersedih atas fungsinya yang telah mati kini. Sibiru tetap membersamai. Seperti tempe. Terlalu mahal untuk hilang.

BLACK
Black adalah pemaksa yang  saya cinta. Seringkali kami berbincang dalam diam. Tentang asa. Tentang harap. Yang begitu ia mengerti. Itulah yang menjadi alasannya membersamai. Black selalu mampu memunculkan senyum dan rasa suka yang terbit di palung hati. Kala fajar. Kala senja. embun membelai mesra. Kala angin menyeruak sesak yang indah. Black mengajari  sederhana dalam langkah Kala. Berputar dalam roda waktu. Berhenti adalah bencana. Ia akan menyeret seseorang jauh ke belakang. Black pun mengajari  sederhana dalam memberi. Sesuatu yang sedang sulit saya lakukan saat ini namun entah mengapa justru lebih banyak tertunaikan oleh mudah yang terselip ditengahnya.

Begitulah. Adakah lagi yang ingin mengajari sederhana kepada saya? Meski tak ingin, tanpa sadar saya banyak belajar sederhana dari banyak objek atom di muka bumi. Bukan tak mungkin, salah satunya adalah anda :))

Tuesday, 26 March 2013

I'm Promise


seseorang mengatakan ini pada saya:


hati terlalu sempit untuk menyimpan kesah, marah, benci, dan hal-hal buruk lainnya. jika hal-hal itu datang. berusahalah untuk melupakan dengan memikirkan hal-hal positif yang lain. jika seorang teman berbuat kesalahan, ingatlah kebaikannya.

bukan masalah beratnya isi air dari gelas yang dipegang. tapi berapa lama kita memegangnya.

it's work. i will try!

makasih seseorang :)

Monday, 2 July 2012

About: mb dew dan si ijo ^^

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Entah kenapa mood menulis saya buruk akhir2 ini. Saya belum terbiasa menulis rutin. Satu-satunya yang membuat saya betah nulis berlama-lama baru sebatas deadline. Fiuh... saya lebih sering sibuk dengan pikiran saya sendiri tanpa dituliskan setelahnya...:(

Sebenarnya tulisan ini sudah dibuat sejak bulan mei lalu. Start awal mei setelah satu jam saya habis menyantap si ijo manisnya mbak dew. Tidak ingin langsung berkomentar, sebab ingin memberi tulisan ini sebagai surprise. Tapi lagi-lagi terbentur mood. Sampai hari ini saya berazzam merampungkannya. Suer mbak! Hari ini selesai.^^

Faricha hasan. Saya mengenal nama itu di dumay saat moment lomba menulis cerpen bertema juara yang diadakan taman sastra. Lomba yang pertama kali saya ikuti di dumay setelah saya kembali menonaktifkan fb dengan niat “hanya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas nulis”. Awalnya saya sedang berselancar di note note para saingan juara, hehe. Untuk membandingkan rumah saya dengan rumah mereka. Beberapa tulisan tidak sampai habis saya baca. Beberapa sudah saya tebak intinya sebelum saya selesai membacanya. Tapi lain hal dengan rumah satu ini, rumah kaca berselimut embun namanya. Ia habis saya lahap kurang dari 1 menit. Wow! Saya sangat terkesan dengan tulisannya. Sangat ringan dan renyah. Seperti menyantap cemilan enak tanpa terasa sudah habis. Khas sekali!

Spontan saya mengadd pemilik rumah itu, dan mengirimnya sebait pesan kesan juga saran. Faricha hasan. Saya baru ngeh ternyata nama itu mirip dengan nama saya, sama sama berinisial FH. Dan akhirnya saya tau, nama aslinya dewi. Mb dew. Begitu orang-orang memanggilnya di status or komen.
Saya bukan termasuk orang yang mudah berteman akrab dengan orang lain di dumay. Apalagi di fb yang dalam rencana saya saat itu –tidak lama2-. Tapi mb dew, penulis keren ini adalah pengecualian. Ia sangat menginspirasi. Meski saya jarang komen ataupun mampir di pondoknya. Selalu ada dari mb dew yang membuat saya berucap dalam hati: iya juga ya. Oh gitu ya?....hehehe (sering ngintip status n note,hihihihi)

bentar-bentar, sebenernya niatnya mo bahas si ijo kok......hadehhhh...
Ok. Pending dulu tentang mb dew. Sekarang kita bahas si ijo. :D
***
Buat saya. Barter antologi cerpen dengan sebuah novel itu sangat tidak seimbang. Tidak adil. Tulisan di kumcer yang cuma seiprit, kok mau dibarter tulisan di novel yang lebih dari seratus halaman. Ga adil kan? Tapi, buat mb dew itu ga masalah (alhamdulillah), mungkin karena dia sangat ngefans dengan tulisan saya,wkwkwkw (geje mb:P). Akhirnya kesepakatan dibuat. Si ijo nyampe duluan di lampung^^, meski proses sampainya ia di tangan saya cukup menjengkelkan (plis mbak, jangan pake jasa pos itu lagi deh lain kali, lupa namanya apa?masa anum disuruh ketemuan di depan mol alesannya kejauhan rumahnya, trus pas udah nunggu eh dia bilang besok aja paket masih aman. Hadeh bolak balik ;(“...)

Saya senyum2 membaca surat cinta mb dew, disitu juga ada tulisan keren: when we believe, miracle happens, tu kan selalu menginspirasi^^. Eh saya lebih senyum2, lebar banget malah. Girang sangat setelah menemukan nama saya di deretan thanks to....huwaaaaa ini pertama kalinya may nem nyantol di karya sastra euy ;D. *syukron mb, mb juga guru menulisku loh....suer tekewer kewer* Namaku ada di dalam tubuh si ijo. Si ijo yang buat saya kesengsem pas liat wajahnya yang sejuk itu;)

Mozaik sekeping hati, tentu saja bercerita tentang hati dan apa yang dirasakan oleh hati. Hati seorang Leya. Kembali bertemu dengan si pengisi hati, yang ditakdirkan tidak menjadi penghuni hatinya. Kak ical bersama anak dan istrinya, kak Iza. Wah, kebayang gimana rasanya?

Hmm,,,sakit pasti (sok tau) kalo ‘rasa’ itu masih ada, lebih sakit lagi (amat sok tau) kalo dari sikapnya si raja tega bernama kak ical (yang menurutku sebagai pembaca juga sangat tega! Esmosi) itu seolah-olah masih ada ‘rasa’. Selalu begitu. Setiap kali hati terbentur pada sesosok lelaki, dan benturan itu tepat mengenai inti hati, lantas byar! Hati berbentuk keping-keping yang hanya bisa disusun oleh si penghancur. Eh tau2nya dia ga bisa (ditakdirkan untuk ga bisa) menyusun kembali kepingan2 itu. Setelah susah payah disusun lagi tanpa tau benar2 tersusun atau tidak. Dia datang lagi, membentur hati,
“Aku benar-benar kehilangan kamu.”
lantas byar!
Hancur lagi!
Nah loh?
Hehehehe...
Dia ga bisa (memang ditakdirkan untuk ga bisa) menyusunnya lagi. Dia cuma bilang,
“Aku hanya menganggapmu sebagai adik.”
Fiuuhhh...kasian....
Hehehehe...

Ah, saya jadi teringat dengan kata2 seorang teman dari kaum mars juga,
“Kalau berteman dengan cowok, jangan pake hati.”
Again, saya pun pernah denger lirik lagu dri boyband, kalo ga salah max5
“Sudah kubilang jangan pakai hati...kalau ga mau patah hati....” kira-kira gitu liriknya.
Ah, emang ga baik main-main dengan hati. Main dengan api. Mending main hujan aja. Hujan-hujanan.
Kembali ke note....

Terlepas dari perbedaan apa yang difikirkan dan dirasakan para kaum mars maupun kaum venus (yang emang suka ga nyambung). Novel ini lebih menekankan pada penerimaan kita, sebagai hamba, terhadap takdir yang telah Allah tentukan. Leya diuji penerimaannya atas takdir Allah, bahwa kak Ical (anum ga suka dengan orang ini, mbak. Hehe) bukan jodohnya. Pun menyadarkannya pada sesosok lelaki bermata teduh yang sederhana, Fajar (nah, yang ini suka. Mehehehe), ada nama itu di sekeping hati Leya. Intinya kita baru merasa kehilangan setelah ia tidak ada di sebelah kita. Dan beruntungnya leya adalah si fajar masih bisa kembal i untuknya...hepi ending^^. hmmmm, puisi dibagian akhir...so...
Cinta yang sederhana...
(apa mereka ga tau, itulah yang wanita mau) geje.com

Ending yang romantis, tapi lebih romantis kalo diceritain mereka nikah mbak,hehehehe.
Ga ada kritik berarti kok mb untuk si ijo. Alurnya pas, enak banget. Lagilagi khas mb dew, renyah! Ada beberapa salah ketik aja. Ingetnya yang di halaman 139 ‘mengenalkanmu’ harusnya ‘mengenalkanku’. Trus anum kecele mb, kirain leya itu aleya eh ternyata adelia. Ini mah nyambungnya juga aleya. Jadi sapa yang salah? :D wkwkwkwk

Intinya saya menikmati si ijo tanpa komentar ‘kritik kurang’ dari novel ini. Mb dew udah berhasil membuat novel keren, dan saya iri. Novel ini diterbitkan juga. Lagi-lagi ‘saya iri’. Pesan yang amat dalam (ini kan kekuatan kritik anum mb, ternyata di si ijo ga berlaku) alhamdulillah saya dapat. Takdir Allah. Jujur, saya termasuk orang yang sedang dilema dengan takdirNya. Allahu Robbi. Engkau pasti merengkuh kami. Tengkyu jiddan mba*_*

“tak ada yang lebih baik daripada yang telah ditakdirkan Allah, karena itu kami rela, mesti tak sepenuhnya mengerti. Karena yang terindah adalah rahasia.” D. Zawawi Imron
 ***
Faricha hasan. Adalah sahabat di dumay yang spesial buat saya. Tanpa ia sadar, banyak yang saya pelajari darinya. Pun termasuk saat dengan spontan ia mengenalkan saya pada dua orang mahluk adam (again, saya termasuk orang yang susah akrab dengan orang di dumay, apalagi laki-laki,hehehe). Tapi seperti mb dew, kedua orang ini (mas ibnu dan mas aw) pun menginspirasi. Lagi-lagi membakar semangat menulis saya. Mereka bertiga ini sangat rutin menulis. Note penuh, blog ga pernah sepi. Selalu terisi. Wah,,,,,saya butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menulis 1 note saja. Tengkyu spiritny! Tengkyu inspirasiny!
Suatu hari saya ingin kopdar ke pondok kupu2nya mb dew.
Berikut pondok hati dan pondok delima.
Dan mereka bisa main ke pondok autumn saya.
Juga danau ranau karnau.....:D
Semoga

Pondokautumn, 2 Juli 2011