Sunday, 29 December 2013

Seribu rupiah untuk Palestina



“Pa, Palestina itu jauh ya?” Falih tiba-tiba bertanya dengan Papa.
“Iya, jauh.” Papa menjawab pertanyaan Falih tanpa menoleh kearahnya. Papa tetap asyik mengetik sesuatu di laptopnya.
“Pa, berapa ongkos ke Palestina?” Tanya Falih lagi

Papa kali ini tersenyum dan menoleh kearah Falih, “Memang Falih mau ke Palestina?” Falih menggeleng lemah, “Tidak. Falih kan masih kecil, Pa.”
“Terus, kenapa tanya ongkos ke Palestina berapa?”
“Ongkos untuk pak posnya, Pa.”
“Kok pak pos?”
“Iya. Pak pos yang antar sumbangan kesana.”
“Papa tidak tahu pasti, Falih. Hm, Falih mau menyumbang untuk palestina ya? Bagus sekali. Tidak usah difikirkan ongkos kesana berapa. Itu urusan pak pos.” Kata Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Falih terdiam. Tak berkata apapun. Falih masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sejak kemarin Falih memikirkan ini. Sejak Iqbal, teman sekolahnya berkata kepadanya,”Kok menyumbang ke Palestina hanya seribu rupiah? Untuk ongkos saja tidak cukup.” Begitu kata Iqbal sambil tertawa. Mau tidak mau, Falih jadi memikirkannya.
Sebelumnya, Falih juga menonton berita di televisi. Falih sedih juga melihat berita itu. Kasihan sekali anak-anak seusianya disana. Bahkan ada yang lebih kecil darinya. Apa yang mereka rasakan. Bagaimana rasanya kelaparan dan diserang peluru setiap hari? Bahkan ada yang meninggal dunia. Falih benar-benar ingin membantu mereka. Tapi apa yang bisa diharapkan dari uang jajannya yang hanya seribu rupiah?
Karena Iqbal berkata seperti itu, Falih tidak jadi memasukkan uangnya ke kotak amal yang dibawa-bawa kakak mahasiswa di pinggir jalan tadi. Uang seribu rupiah memang tidak ada harganya, keluh Falih dalam hati.
“Falih masih memikirkan Palestina ya?” Papa mendekati Falih yang duduk di teras rumah. Falih mengangguk lemah. Masih sedih memikirkan tidak bisa membantu apa-apa untuk anak-anak Palestina.
“Masih memikirkan ongkosnya?” Tanya Papa sambil tertawa. Falih terdiam tidak ikut tertawa. Falih benar-benar sedang sedih.
“Ayo dong, Falih cerita ke Papa. Apa yang Falih fikirkan tentang Palestina?”
Falih menoleh dan menjawab, “Falih sedih, Pa. Falih cuma bisa menyumbang sedikit buat Palestina. Cuma seribu rupiah.”
Papa tersenyum mendengar jawaban Falih. Ditepuknya pundak anaknya itu.
“Allah memberi pahala bukan dari berapa sumbangannya, Falih. Tapi dari niat Falih yang tulus untuk membantu saudara-saudara kita disana.” Papa berkata sambil tetap menepuk pundak Falih.
“Tapi tetap saja uang seribu itu tidak ada gunanya untuk mereka kan, Pa?” sahut Falih.
“Kata siapa tidak ada gunanya? Kalau Falih berkali-kali menyumbang uang seribu rupiah. Ditambah teman-teman Falih yang juga berkali-kali menyumbang uang seribu rupiah. Ditambah Papa dan Mama. Ditambah seluruh rakyat Indonesia. Hm, apakah uang seribu itu masih sedikit?” Tanya Papa
“Wah! Iya juga ya, Pa! Makasih Pa! Karena Papa, Falih jadi punya ide.” Suara Falih tidak lagi lemah seperti tadi. Sekarang Falih semangat dan tidak sedih lagi. Falih pasti bisa membantu anak-anak di Palestina.
“Tapi nak, yang paling penting. Falih juga harus ingat. Do’a juga sangat dibutuhkan mereka.” Falih mengangguk mantap.
***
Kalau teman-teman ingin ikut menyumbang untuk palestina. Silahkan masukkan uangnya ke kotak ini. cukup seribu satu hari. Tulisan itu terpajang besar-besar disebuah karton. Dibawahnya terdapat kotak kardus besar. Tepat diletakkan di depan kantor guru. Siapa lagi yang membuatnya kalau bukan Falih? Tentu saja, Falih sudah meminta izin dengan Pak Zul, Kepala Sekolahnya.
Selama satu minggu, kotak itu masih diletakkan di depan kantor guru. Setiap pulang sekolah, Falih dan teman-temannya mengumpulkan uang tersebut dan menyimpannya. Iqbal juga tidak tinggal diam. Iqbal bahkan sudah meminta maaf atas perkataannya kemarin-kemarin. Ternyata uang seribu juga bisa bernilai.
Benar sekali apa kata Papa. Setelah satu minggu penuh, uang seribu yang dikumpulkan jumlahnya cukup banyak. Falih seakan tak percaya kalau uang itu bisa sebesar dua juta rupiah. Tentu saja sudah ditambah dengan sumbangan dari Papa, para guru, dan orang tua teman-temannya.
***
Dimuat di Lampung post tanggal 2 Desember 2012

Alea kok bisik-bisik



Hanina kesal sekali. Alea sahabatnya, sudah dua hari ini bersikap menyebalkan. Alea sekarang suka bisik-bisik dengan Rizka. Padahal Hanina duduk disamping Alea.
Mereka bisik-bisik sepanjang jam sekolah. Sebelum bel masuk. Saat belajar. Saat istirahat. Bahkan saat akan pulang. Pasti yang mereka bicarakan Hanina. Siapa lagi? Rizka dan Alea bisik-bisik sambil melirik kearah Hanina. Setelah bisik-bisik, mereka tertawa cekikikan.
Tidak hanya itu. Alea dan Rizka kepergok sedang menulis sesuatu di kertas putih besar. Saat Hanina dekati. Mereka buru-buru membereskan dan memasukkan kertas itu kedalam laci. Mengapa sekarang Alea lebih akrab dengan Rizka? Padahal selama ini sahabatnya Alea ya Hanina. Huh, menyebalkan.

“Kenapa kalian bisik-bisik sih?” tanya Hanina. Ini tanya yang kedelapan sepanjang hari. Tapi Alea dan Rizka tidak mau menjawab. Hanya cuek dan pergi begitu saja. Hanina jadi bertambah kesal. Mengapa Alea jadi berubah seperti itu? Apa salah Hanina?
Awas saja. Alea dan Rizka akan Hanina adukan ke bu Warmi. Lihat saja. Biar mereka tahu rasa.
“Bu, Alea bisik-bisik sama Rizka. Pasti mereka lagi ngomongin Hanina. Pasti mereka lagi menjelek-jelekkan Hanina, bu.” Lapor Hanina sembari mendekati meja bu Warmi.
“Hanina, tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Mungkin saja mereka memang sedang membicarakan Hanina. Tapi bukan berarti menjelek-jelekkan. Mungkin saja Alea dan Rizka sedang berbisik-bisik bilang, kok Hanina itu cantik sekali ya. Baik sekali ya.”  Bu Warmi tersenyum sambil mengacak-acak kerudung Hanina.
Bibir Hanina mengerucut cemberut. Tidak mungkin lah mereka bisik-bisiknya seperti itu.
“Alea dan Rizka bisik-bisiknya sambil tertawa cekikikan, bu. Tidak mungkin bilang Hanina cantik. Hanina baik. “ Bibir Hanina lebih mengerucut. Bu Warmi tersenyum geli melihatnya.
“Baiklah. Agar lebih jelas,  Hanina panggil Alea dan Rizka kesini.”
“Baik bu.”
Alea dan Rizka takut-takut melangkah ke meja bu Warmi. Hanina tersenyum puas melihatnya. Suruh siapa bisik-bisik begitu. Biar saja mereka diomeli bu Warmi, ucap Hanina dalam hati.
“Alea, Rizka. Benar kalian bisik-bisik membicarakan Hanina?”
Alea dan Rizka mengangguk
“Kalian menjelek-jelekkan Hanina?”
Kali ini, Alea dan Rizka mereka menggeleng
“Mereka tidak mau ngaku, bu. Harus dipaksa.” Seru Hanina kesal
“Alea dan Rizka, walaupun kalian tidak menjelek-jelekkan Hanina. Bisik-bisik di dekat teman itu juga tidak baik. Mengapa tidak baik? Karena bisik-bisik seperti itu akan membuat teman kalian berpikiran yang bukan-bukan. Merasa dijelek-jelekkan karena kalian bisik-bisik berdua sedangkan hanina ada di dekat kalian.”
Alea dan Rizka diam membisu. Mereka menunduk dalam-dalam
“Tidak seperti itu lagi ya, nak. Kalian kan teman baik?”
“Iya bu.”
“Nah, sekarang silahkan saling memaafkan.”
Alea dan Rizka mengulurkan tangan ke Hanina. Hanina senang sekaligus lega.
***
Hanina uring-uringan lagi hari ini. Meskipun kemarin Alea dan Rizka sudah meminta maaf. Tapi tetap saja Alea bersikap sama. Kali ini bukan bisik-bisik. Tapi menjauh saat Hanina dekati. Huh, rasanya Hanina ingin menangis deh.
Hanina melangkah lemas ke tempat duduknya. Bangku Alea masih kosong. Bangku Rizka juga. Mereka dimana? Apakah sedang membicarakan Hanina lagi?
Tak lama, bel masuk setelah istirahat terdengar. Hanina hendak mengambil alat tulis dan buku di dalam laci mejanya. Saat Hanina merogoh laci, tangannya merasakan sesuatu. Seperti menyentuh karton yang digulung. Apa ini?
Segera saja karton itu diambil Hanina. Tak lama, ia sudah membukanya. Disana tertulis besar-besar
Hanina....selamat ulang tahun ya....
Dibawah tulisan besar itu tergambar tiga orang anak perempuan bergandengan tangan sambil tersenyum. Mata hanina membelalak bahagia. Matanya berkaca-kaca. Ternyata Alea dan Rizka merencanakan kejutan ulang tahun untuk Hanina. Satu buah lukisan penuh warna bergambar mereka bertiga. Ternyata ini kertas putih besar yang disembunyikan darinya.
Hanina menyesal sudah berburuk sangka dengan Alea dan Rizka. Ternyata mereka sahabat yang baik.
Saat Hanina masih terharu melihat lukisan itu. Alea dan Rizka sedang berjalan kearahnya sambil tersenyum senang.
“Maaf ya, Hanina. Kami sempat membuatmu kesal. Habisnya kamu tidak pergi-pergi, sih. Selalu ada disamping kami. Jadi susah mau membuat kejutan ini.” seru Alea disambut anggukan kepala Rizka.
Hanina tersenyum lebar. Ia memeluk kedua sahabatnya itu
“Makasih ya teman-teman. Maaf juga karena Hanina sempat buruk sangka kemarin.”
Alea dan Rizka mengangguk kompak. Mereka bertiga masih berpelukan bahagia.
***
Selesai

**Alea kok bisik-bisik adalah cerita anak yang  pertama kali lolos di media massa: Lampung  Post tanggal 18 November 2012

Wednesday, 26 June 2013

Sederhana

Bagi saya, sederhana adalah cukup dalam kondisi apapun. Tak tersandung dalam situasi buruk, namun juga tak silau dengan keserbaadaan. Jika setiap orang memiliki check list ‘true’ dan ‘false’, maka check list kedua setelah iman buat saya adalah ini: SEDERHANA


Sederhana. Adalah mengenal. Mengenal fungsi dan manfaat dengan baik. Tak berlebihan. Sinergi antara ilmu dan penghambaan padaNya. Ah, sederhana. Betapa saya sedang belajar mata kuliah itu pada universitas kehidupan yang kita jenjangi setiap semesternya, kawan.

Sederhana. Maka, dari orang-orang sederhanalah saya belajar. Dari semesta berikut adonan isinya. Sederhananya sang fajar adalah menghangatkan, sederhananya pagi adalah kesegaran, sederhana daun adalah diam. Sederhana malam adalah titik-titik cahaya. Juga angin yang berhembus pelan.
Sederhana. Mengilhami senyum tersangkut pada sesuatu yang kuhela dalam sepi. Diam-diam.

>>>>dari ketiga benda tercinta, yang pun dari mereka, saya belajar untuk sederhana

TEMPE
Sebuah handphone merk sony erricson tipe C100. Bertahan dalam keterbatasan adalah ilmu yang ia ajarkan. 8 tahun membersamai. Mengapa tempe? Itu ejekan adik saya untuk fisiknya yang menyerupai tempe :D tempe yang istimewa. Seistimewa mengertinya ia terhadap tuannya. Berkali-kali tempe sakit. Namun selalu kalah oleh kesembuhannya yang menakjubkan. Tempe membuat saya rindu akan suara khas sms yang tak bisa diganti-ganti. Nada singkat yang hanya berulang 2 kali. Ia mengajari sederhana dalam keapaadaan.

SIBIRU
Flashdisk pertama yang saya miliki. Butuh waktu cukup lama untuk menyisihkan uang jajan 80ribu untuk memilikinya kala itu. Waktu dan konsisten yang terbayar manis oleh rupanya yang begitu cantik dan lembut. Lihatlah, ia sampai begitu terlihat lebih tua dari usia aslinya. Saya memilikinya di awal semester kuliah, tahun 2006. Sederhana sibiru adalah setia. Sibiru sering sekali hilang, namun begitu mudah ia ditemukan. Mungkin jika bernyawa, itu artinya cinta? Entahlah. Saya yang nyata bernyawa, jelas mencintainya. Bersedih atas fungsinya yang telah mati kini. Sibiru tetap membersamai. Seperti tempe. Terlalu mahal untuk hilang.

BLACK
Black adalah pemaksa yang  saya cinta. Seringkali kami berbincang dalam diam. Tentang asa. Tentang harap. Yang begitu ia mengerti. Itulah yang menjadi alasannya membersamai. Black selalu mampu memunculkan senyum dan rasa suka yang terbit di palung hati. Kala fajar. Kala senja. embun membelai mesra. Kala angin menyeruak sesak yang indah. Black mengajari  sederhana dalam langkah Kala. Berputar dalam roda waktu. Berhenti adalah bencana. Ia akan menyeret seseorang jauh ke belakang. Black pun mengajari  sederhana dalam memberi. Sesuatu yang sedang sulit saya lakukan saat ini namun entah mengapa justru lebih banyak tertunaikan oleh mudah yang terselip ditengahnya.

Begitulah. Adakah lagi yang ingin mengajari sederhana kepada saya? Meski tak ingin, tanpa sadar saya banyak belajar sederhana dari banyak objek atom di muka bumi. Bukan tak mungkin, salah satunya adalah anda :))

Tuesday, 26 March 2013

I'm Promise


seseorang mengatakan ini pada saya:


hati terlalu sempit untuk menyimpan kesah, marah, benci, dan hal-hal buruk lainnya. jika hal-hal itu datang. berusahalah untuk melupakan dengan memikirkan hal-hal positif yang lain. jika seorang teman berbuat kesalahan, ingatlah kebaikannya.

bukan masalah beratnya isi air dari gelas yang dipegang. tapi berapa lama kita memegangnya.

it's work. i will try!

makasih seseorang :)