Friday, 23 May 2014

Ondur yang Berjalan Mundur

Ondur si undur-undur adalah serangga yang sangat tertutup. Ia tidak memiliki satu pun teman. Selain karena wajahnya yang tampak seram, Ondur juga jarang terlihat. Ia lebih suka menyendiri di lubangnya. Itu sebabnya Ondur terkenal misterius. Tidak ada serangga lain yang berani mencoba mendekatinya, kecuali Wings si kupu-kupu.
“Aku ingin mengundang semua serangga di hari ulang tahunku, Upik. Termasuk Ondur,”ujar Wings
“Apa aku tidak salah dengar? Untuk apa kau mengundang Ondur misterius itu?” Tanya Upik si kepik kaget

“Misterius bukan berarti berbahaya kan?” Wings mengerlingkan sebelah kelopak matanya
“Iya, sih. Tapi..”
“Sudahlah, Upik. Apa kau tidak penasaran dan ingin melihat dari dekat bagaimana Ondur berjalan mundur?”
Tak ada lagi keberatan dari Upik. Wings segera terbang menuju lubang tempat tinggal Ondur. Upik hanya mengintip dari jauh.
“Hai, Ondur. Kau sedang apa?” Tanya Wings.
Tidak ada jawaban. Ondur terlihat sedang menggali lubangnya lebih dalam.
“Ondur? Kau mendengarku?”
Ondur menoleh. Wajahnya tampak kurang bersahabat. Wings mencoba tersenyum dan kembali bertanya,
“Besok kau ada acara tidak? Aku kemari ingin mengundangmu di pesta ulang tahunku. Aku sangat berharap kau dapat hadir.”
Karena kembali tidak ada jawaban, Wings pamit pulang. Diikuti Upik yang terus khawatir kalau besok Ondur benar-benar hadir.
Esoknya, kekhawatiran Upik benar-benar terjadi. Ondur hadir tepat saat semua tamu undangan menyanyikan lagu potong kue. Mengetahui kehadiran Ondur, semua berhenti bernyanyi. Suasana menjadi sangat hening dan kaku.
“Oh, hai Ondur. Selamat datang. Aku senang kau memenuhi undanganku,” sambut Wings dengan wajah berbinar.
Hei, lihatlah Ondur mencoba untuk tersenyum dan berhasil. Ia juga mencoba untuk menyalami Wings dan berkata selamat ulang tahun. Lagi-lagi berhasil.
Suasana yang kaku perlahan kembali santai. Lagu potong kue pun sudah kembali dilantunkan. Ondur mendapat satu suapan kue dari Wings. Dengan ramah, Ondur mengucapkan terima kasih. Sepertinya Ondur yang misterius tidaklah berbahaya.
Seluruh serangga menjadi sangat kaget dan tertawa-tawa saat Ondur ikut menari dengan tarian paling lucu yang pernah ada. Bagaimana tidak lucu, Ondur menari dengan gaya jalan mundur khasnya.

Sejak itu, tidak ada lagi julukan misterius untuk Ondur. Kini Ondur lebih dikenal sebagai serangga paling lucu. Ondur si undur-undur yang berjalan mundur.

Pupuy Cantik sekali

Pupuy adalah seekor ulat coklat dengan bintik-bintik hitam di sekujur tubuhnya. Meskipun Pupuy terlihat tidak menarik saat ini, ia tetap percaya diri. Pupuy tahu suatu hari ia akan berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Semua penghuni kebun ini yang berkata seperti itu.
"Hei, Pupuy. Makan saja kerjaanmu." tegur Obi si burung Pipit. Pagi itu ia bertengger di ranting pohon. Ada Pupuy yang sedang asyik memakan daun.
"Biar saja. Apa urusanmu Obi." jawab Pupuy tak perduli
"Kasihan kan Apo. Daunnya bisa habis kau makan."
"Aku sudah ijin kok. iya kan Apo?"

"Iya. Biar saja Obi. Pupuy juga sebentar lagi akan menjadi kepompong. Puasa berhari-hari sebelum menjadi kupu-kupu cantik." puji Apo si pohon alpukat. Pupuy menjadi bangga dipuji seperti itu.
"Tuh, dengar apa kata Apo. Tunggu saja sampai aku berubah menjadi kupu-kupu yang cantik." ucap Pupuy
"Kau tidak perlu marah, Pupuy. Aku kan tidak bermaksud mengejekmu."
"Ya sudah. Pergi sana. Aku lagi sibuk."
Pupuy kembali menikmati daun-daun milik Apo yang lezat. Obi terbang menjauh. Apo tertidur lelap di tengah desiran angin lembut.
Hari beranjak sore. Pupuy masih asyik menikmati daun-daun milik Apo. Terlihat rombongan lebah yang baru pulang menuju sarang.
"Cepat juga kalian terbang. Tapi sayap kalian kecil sekali ya. Harus mengepak berkali-kali agar tidak terjatuh. Hihihi." komentar Pupuy saat rombongan lebah melewatinya.
Rombongan lebah tidak menjawab. Mereka terlalu lelah seharian bekerja
"Kalau sayapku nanti akan lebih lebar dari tubuhku yang ramping. Aku bisa terbang bebas kesana-kemari tanpa perlu tergesa-gesa seperti kalian." ucap Pupuy lagi.
"Mengapa kamu mengatai kami seperti itu?" tanya salah satu lebah yang tidak tahan dengan komentar Pupuy. Ia terbang mendekat ke arah Pupuy.
Pupuy tak menjawab. Ia mencoba berkacak pinggang. Namun tangan-tangannya terlalu pendek untuk melakukan itu. Pupuy akhirnya bersender di ranting pohon. Tersenyum penuh percaya diri.
“Aku calon kupu-kupu yang sangat cantik. Akan jauh lebih cantik dibandingkan kalian. Jadi kalian jangan iri ya. Hihihihi,” ucap Pupuy lagi
“Kau sombong sekali.”
“Biar saja.”
Pupuy melenggang pergi. Tak dipedulikannya tatapan kesal dari rombongan lebah. Ia terus berjalan pelan menuruni tubuh Apo. Ia merasa sudah saatnya tubuhnya berubah. Tubuh ulatnya harus menjadi kepompong.
“Akhirnya saat yang kutunggu-tunggu datang juga!” sorak Pupuy
“Saat apa yang kau tunggu, Pupuy?” tanya Etal si tanaman talas.
“Saat aku berubah menjadi kepompong. Itu artinya aku akan segera menjadi kupu-kupu.” Jawab Pupuy dengan bangga
“Wah, kau pasti akan menjadi cantik sekali, Pupuy.” puji Etal. Kupu-kupu yang selama ini dikenalnya, semua berparas cantik. Kupu-kupu selalu mengundang decak kagum para penghuni kebun.
“Pasti dong!” jawab Pupuy makin bangga
Ia segera berjalan cepat. Tubuh gendut membuatnya susah bergerak. Namun Pupuy tidak patah semangat. Akhirnya ia tiba di ranting milik Ago si pohon mangga.
“Ago, ijinkan aku menjadi kepompong dan bergelantungan di rantingmu ya?”
“Silahkan Pupuy, dengan senang hati.” jawab Ago ramah.
Tak lama, Pupuy membungkus dirinya menjadi kepompong. Berhari-hari Pupuy berpuasa untuk kemudian dapat berubah menjadi kupu-kupu.
Hari itu pun tiba. Pupuy menunjukkan tanda-tanda akan berubah menjadi kupu-kupu. Perlahan-lahan Pupuy keluar dari kepompongnya dan tampaklah sosok kupu-kupu itu.
Tubuhnya berwarna kecoklatan. Dua antena kecil bertengger di atas kepalanya. Matanya hitam bulat. Dan sayapnya. Ini yang paling penting. Sayapnya berwarna… Oh tidak, mengapa sayap Pupuy berwarna coklat? Sama seperti warna tubuhnya. Tidak ada warna-warni indah. Hanya bintik-bintik hitam yang terkesan kusam. Sayap itu pun tidak begitu lebar. Tubuh coklatnya pun tidak bisa dibilang ramping.
Pupuy kaget bukan main. Mengapa sosoknya seperti ini? Sama sekali tidak cantik. Pupuy berkaca di atas permukaan air. Ia menangis tersedu-sedu menyadari betapa buruknya ia saat menjadi kupu-kupu.
Semua penghuni kebun mendengar tangisan Pupuy.
“Hai, kau pasti Pupuy yang telah berubah menjadi kupu-kupu cantik bukan?” tanya Apo si pohon alpukat. Pupuy tak menjawab. Tangisannya justru bertambah keras.
“Pupuy, mengapa kau menangis? Harusnya kau bahagia. Hari ini kau telah berubah menjadi kupu-kupu cantik,” hibur Ago si tanaman talas
“Kau mengejekku? Yang seperti ini kau bilang cantik?!” ucap Pupuy di tengah isak tangisnya.
“Kau memang cantik, Pupuy. Iya kan teman-teman?” tanya Ago pada semua penghuni kebun
“Iya, kau memang cantik, Pupuy,” jawab Apo, Ulil si ular hijau, Obi si burung pipit, rombongan lebah, sepasang jangkrik, dan Lala si belalang bersamaan.
“Kau cantik dengan sayap yang bisa membawamu terbang bebas kesana kemari. Kau cantik dengan senyum manismu dan sikap ramahmu. Kau sangat cantik dengan semua itu.” Ambu si pohon rambutan menambahi.

Semua penghuni kebun terus menghibur dan menyemangati Pupuy. Pupuy akhirnya sadar. Ia akan menjadi cantik dengan menjadi kupu-kupu yang baik hati. Tidak lagi sombong seperti kemarin-kemarin. Lihatlah, Pupuy si kupu-kupu amat cantik dengan senyuman pertamanya hari ini.

Semut dan Kutu daun

“Air itu sangat lezat. Warnanya putih seperti susu. Rasanya manis seperti madu.”
Tak sengaja, Semut mendengar dua ekor burung gereja bercakap-cakap. Air lezat? Seperti susu? Seperti madu? Wah, Semut jadi penasaran. Air apa itu? Semut memasang telinganya lekat-lekat.
“Dimana kau temukan air itu?” tanya teman burung gereja
“Di sarang kutu daun,” jawab si Burung gereja

Sarang kutu daun? Itu kan dekat sekali. Sarang kutu daun ada di atas pohon mahoni. Semut ingin sekali mencoba air itu. Sepertinya memang lezat sekali. Ia pulang ke sarang dan memberitahu teman-temannya tentang percakapan dua ekor burung gereja tadi.
Cerita Semut membuat heboh rakyat semut. Semua penasaran dengan rasa manis dari air milik kutu daun.
 “Kami juga penasaran dengan air milik kutu daun itu, Semut. Tapi kita tidak mungkin meminta bukan? Apalagi sampai mengambil paksa. Mencari remah-remah makanan sudah cukup bagi kita,” ucap Ratu semut
Ratu semut benar. Rakyat semut bukanlah hewan pengganggu. Semut menghela nafas, mungkin air milik kutu daun hanya menjadi impian kosong baginya. Semut berusaha melupakan rasa penasarannya tentang air milik kutu daun. Ia kembali menyibukkan diri dengan bekerja bersama teman-temannya.
Hari itu semut dan teman-temannya mencari remah-remah makanan di sekitar pohon mahoni. Cukup banyak hasil yang mereka dapatkan. Ketika mereka sedang siap-siap pulang ke sarang. Terdengarlah jeritan ketakutan dari atas pohon mahoni.
“Pergi! Jangan ganggu kami!”
“Hahahaha. Kami sudah meminta baik-baik. Kau tidak boleh pelit, Kutu daun!”
Terlihat oleh Semut, dua ekor burung gereja yang kemarin bercakap-cakap. Apakah mereka sedang mengambil air milik kutu daun secara paksa?
“Pergi kalian! Kami tidak akan memberi kalian satu tetes pun!”
Semut menoleh ke arah teman-temannya. Mereka sama-sama tahu apa yang akan mereka lakukan. Semut dan teman-temannya berlari menaiki pohon mahoni. Mereka menuju sarang kutu daun.
Sesampainya disana. Terlihat sarang kutu daun yang hampir robek. Lima ekor kutu daun tampak ketakutan. Dua ekor burung gereja masih berusaha mengambil air dari sarang kutu daun. Semut dan teman-temannya menaiki tubuh burung gereja. Tanpa ampun mereka menggigit bagian tubuh yang bisa digigit.
“Kurang ajar! Aduh! Sakit!”
“Aw! Sakit!”
Dua ekor burung gereja itu terbang tak tentu arah. Semut dan teman-temannya berhasil turun kembali ke ranting dan daun mahoni.
“Terima kasih, semut-semut. Kalian sudah menolong kami,” ucap salah satu kutu daun.
Semut dan teman-temannya mengangguk dan tersenyum.
“Hati-hatilah menjaga air lezat kalian itu, ujar Semut
“Bagaimana kau tahu kalau air kami ini lezat?” tanya kutu daun
“Aku hanya mendengar dari hewan lain.”
“Kalian boleh ikut menikmati air kami setiap hari, tapi ada syaratnya,” tawar kutu daun
“Apa syaratnya?” semua semut kompak bertanya
“Kalian bersedia membantu kami untuk menjaga sarang kami, bagaimana?” tanya kutu daun.

“Siap!” Semut dan teman-temannya menjawab dengan lantang. Mereka senang sekali. Akhirnya bisa menikmati air milik kutu daun itu setiap hari. Wah! Ternyata rasanya memang lezat sekali! Tunggu sampai Ratu semut ikut menikmati air ini.

Tuesday, 20 May 2014

Flashback 15 tahun yang lalu

Hari ini. Hari terakhir menjadi pengawas US di SD Tunas Harapan tahun 2013/2014. Melihat satu persatu wajah-wajah serius khas anak-anak. Mengingatkanku pada satu momen itu. Tahun 1999. 15 tahun yang lalu.

Seorang anak perempuan.Dengan jepit rambut berwarna merah di kiri kanan poninya. Rambutnya lurus pendek sebahu. Jepit rambut memang tumben sekali ia pakai. Khusus untuk waktu 1 minggu. Agar poninya tidak mengganggu saat ia mengerjakan soal ujian.

Ah ya. Nomor urut 17. Di bangku pojok kiri paling belakang. Mata mengerjap-ngerjap. Berharap lancar mengerjakan soal demi soal.


Sesekali kening berkerut. Di akhir waktu, seorang teman yang duduk tepat didepannya berbisik pelan,
"Num, Hortikultura itu sayuran dan buah-buahan."
Itu persis satu-satunya soal yang tidak bisa ia jawab. Ada rasa ingin mengisi. Tidak jadi.

Selalu ada sayang. Selalu ada siapapun, apapun, bagaimanapun cara mereka untuk membuatmu belajar tidak jujur. Selalu ada sayang. Bahkan tiga hari yang lalu, tiga orang pengawas sekolah dari UPT tingkat kecamatan menganjurkan kami (pengawas ujian) untuk menganggap kalian sebagai "anak sendiri" dengan memberitahu jawaban. Demi Allah sayang. Belajarmu tentang kejujuran jauh lebih mahal dari sekedar nilai. Lebih mahal dari sekedar kualitas UPT yang dikhawatirkan. Lebih mahal dari sekedar. Ah, bahkan jika kalian hanya mengenal kami tiga hari saja. Kalian harus belajar satu hal...
"Nak, bu guru yakin kalian pasti bisa jujur."

Bahkan, yang lebih membuatku haru. Bu Ica memberi satu lagi pelajaran berharga. Yang kubaca dengan pasti di wajah-wajah kalian. Kalian mengerti. Kalian sungguh-sungguh mengerti...
"Tetaplah menjaga sholat 5 waktu. Bahkan walaupun teman, guru, atau orangtua tidak mengingatkanmu. Ingatkan diri sendiri. Tetap ingat Allah. Tetap ingat sholat."

Entahlah. Saat kalian satu persatu menjawab pertanyaan di hari ketiga US...
"Sebutkan cita-cita kalian satu persatu?"
"Dokter anak."
"Polisi."
"Pilot."
"Guru."
"Pengusaha."
"Sekolah Pelayaran."
Dst

Ada asa yang kubaca dari mata-mata kalian. Berjuanglah nak. Berjuanglah menajdi dokter anak yang jujur. Polisi yang jujur. Pilot yang jujur. Guru yang jujur. Pengusaha yang jujur. Nahkoda yang jujur. Jadi siapapun yang jujur.

Berjuanglah.

*Ada haru yang menyeruak saat kalian menyalamiku satu-persatu.