Tuesday, 23 June 2015

Rumah itu bernama Cirebon

Hari ini, hari kedua saya tinggal di Cirebon. Ikut suami yang sudah merantau ke kota rebon sejak lulus SMA. Rasanya mengharu biru. Saya seperti orang bingung yang serba plin-plan. Dari pertama kami menikah bulan lalu, tepatnya tanggal 31 Mei 2015. Suami harus kembali ke Cirebon 5 hari kemudian. Sebagai pasangan yang baru menikah (Ihiiirr,hehe) tentu saya dilanda demam malarindu. Dia kembali ke Lampung dua pekan kemudian, di hari kedua bulan Ramadhan.

Kemarin, tepatnya tanggal 22 Juni 2015, saya ikut suami ke Cirebon. saya kembali dilanda malarindu. Baru sampai, saya sudah menangis terus menerus. Sampai sesegukan. Dan ya Allah, saya bersyukur dianugerahi Allah seorang suami yang begitu penyabar. Dia ikut meneteskan airmata. Katanya ikut haru.

Monday, 18 May 2015

Tilawah Alquran versi langgam Jawa? Subhanallah!

Kening saya berkernyit saat melihat artikel yang di share beberapa orang di facebook. Langgam Alquran yang dibacakan dalam peringatan Isra Miraj. Apa itu langgam? Mulai deh kepo. Saya langsung buka youtube.

Dan hasilnya! Seperti mendengar lagu keroncong waljinah. Asing! Banyak yang mengecam tilawah Alquran dengan langgam jawa ini. Kesalahan tajwid, dimana panjang madnya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu. Begitu komentar Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, Qari’ internasional dari Arab Saudi. Subhanallah. Maha Suci Engkau ya Allah dari apa yang sudah mereka lakukan.

Sunday, 22 February 2015

Sudah ide sama, keduluan pula?

Awal tahun 2015, saya tiga kali dihadapkan kenyataan. Tiga ide (yang saya anggap paling wah buat saya sendiri) sudah bertengger manis dua diantaranya di rak toko buku gramedia.
"Ya Allah, ini kan...." cuma kalimat itu yang terbersit di fikiran.
selebihnya...

Sedih.

Sangat sedih.


Ide, konsep, sama persis. Hanya isi cerita yang berbeda. Sama dan mirip itu hal biasa, banyak yang bilang begitu. Tapi kemiripan yang nyata begini begitu menohok.

Tapi yang menjadi obat adalah, ketiga ide buku itu sudah di accdi penerbit.

Ah, kembali berproses, lebih fokus melihat ke depan, kurangi melirik kiri kanan. Itu yang harus saya lakukan, bukan?

Semagnum!

Tuesday, 29 July 2014

Tentang cinta -----> Frozen & Brave

Ada jarak yang memisahkan kita
Mungkin tampaknya tersebab olehmu
Tapi tidak, ini karenaku
Memaksamu
Membuatmu tak memiliki pilihan
Menjauh dan merahasiakan
Apa yang lebih pedih dari merindu namun berpura-pura acuh, sayang?



Siapa bilang cinta hanya untuk mereka yang sedang dalam suasana merah jambu? Setelah Disney selalu menyajikan cinta sepasang putri-pangeran bertahun-tahun. Mulai dari cinta cinderella, putri salju, rapunzel, aladin, dst. Akhir-akhir ini Disney menghadirkan cinta berbeda. Lebih indah. Lebih mengharukan. Ah, airmata ini menitik kala menikmati dua film, Frozen dan Brave.

Kalau Frozen berkisah tentang cinta kakak beradik. Brave berkisah tentang cinta ibu dan anak gadisnya. Ok. Satu persatu ya.

Frozen. Ah, cinta kakak adik adalah cinta dalam diam. Siapa yang tidak pernah bertengkar dengan kakak atau adik? Tapi siapa yang tidak merindu dengan kakak atau adik saat berjauhan? Pada siapa lidah kelu jika mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung? Pada siapa yang enggan menanyakan kabar apakah kau baik-baik saja disaat berjauhan? Cinta pada saudara. Pada kakak. Pada adik. Adalah cinta dalam diam. Tidak perlu ucapan. Tidak perlu manisan kata. Cinta itu tumbuh seiring keluarnya kita pada rahim yang sama.

Airmata saya berjatuhan saat Anna, sang adik mengajak kakaknya, Elsa bermain. Elsa di dalam kamar berpura-pura dingin. Padahal ia sendiri dingin oleh rindu bermain. Beruntung, saya memiliki masa kecil yang indah bersama keempat saudara kandung saya. Apa rasanya kesepian sedangkan kakakmu berdiam diri di kamar tanpa kamu tahu alasannya apa? Lebih lagi, apa rasanya kesepian menanggung perasaan bersalah, rahasia, dan rindu yang menggebu pada adik tersayang?

Itulah kisah Frozen. Kisah yang berakhir amat manis. Ketika percayanya sang adik pada cinta sang kakak. Ketika sang kakak hanya mengkhawatirkan keadaan sang adik. Happy ending. Sebab cinta kita, kakak. Yang menghilangkan jarak bertahun-tahun lamanya.


Brave. Merida adalah sosok putri yang paling saya idolakan. Dia tidak anggun atau feminim. Ia begitu bebas, bebas, dan bebas. Memanah, berkuda, layaknya seorang kesatria. Merida dituntut bersikap layaknya sang putri oleh ibunda. Dalam kisah ini, tidak ada sosok antagonis berarti. Merida memiliki hak menjadi apa ia kelak. Namun ibunda tak bisa disalahkan ingin menjadikan Merida sosok putri seutuhnya.

Ending film Brave lagi-lagi membuat airmata saya berjatuhan. Ah, sungguh. Cinta seorang ibu, adalah cinta sejati yang sebenarnya. Merida menyadari kekeliruannya menilai ibunda saat ia tak sengaja membuat ibunya berubah menjadi seekor beruang. Cinta seorang ibu, membuat Merida tak putus asa melakukan segala cara agar ibunya kembali berubah menjadi manusia. Akhir yang amat manis, saat Merida jalan-jalan menaiki kuda bersama Ibunda. Ibu yang kini memahami pilihan sang anak. Anak yang memahami cinta sang ibu.