Saturday, 14 January 2012

Kepada YTC Fadila Hanum

-Untukmu dalam ruang 14 Januari 2022-

Assalamu'alaikum num. apa kabar? masih ingat saya? saya yang bukan hanya namanya yang sama persis dengan kamu. tapi juga wajahnya, sifatnya, takdirnya, dirinya adalah kamu.

Iya saya. saya adalah dirimu 10 tahun yang lalu. dirimu yang entah sejak kapan mulai ragu dengan mimpi yang mulai kau rajut dengan susah payah. masih ingat kan? dengan dadamu yang terasa sesak sampai nafasmu harus kau ambil satu-satu kala itu. dengan airmatamu yang kau paksa berhenti namun hanya membuatnya bertambah deras alirannya. masih ingat kan?

Kamu tau num? jujur, saya masih ragu. masih khawatir. bahkan mulai mempertanyakan apakah kamu, apakah saya mampu? jujur lagi, saya mulai ingin membenci dirimu, diriku, diri kita. ingin. tapi tidak mungkin bisa kan saya setega itu? saya tau, tidak ada yang bisa mengerti diri kita selain diri kita sendiri. tidak perlu lagi kau beritahu itu. kamu kasihan. saya kasihan. kita kasihan.

Thursday, 12 January 2012

cinta adalah ia

Cinta adalah ia yang tersenyum bersamaku menikmati hujan.
Berlari-lari.
Tertawa-tawa.
Meski kuyup.
Ia yang berdiri disampingku menikmati senja.
Menepuk pundakku.
Berkata, cahaya itu...besok akan datang lagi, percayalah


Cinta adalah ia yang selalu berucap:
Tak apa, semua akan baik-baik saja
Tidak masalah, lain kali pasti ada jalan
Kamu pasti bisa, masalah ini pasti bisa dilewati

Saturday, 31 December 2011

bisakah?

Dengan pedenya saya pernah bilang (dengan diri sendiri). Bahwa emosi saya sangat bisa saya kontrol mulai sekarang. Tidak lagi mudah marah dan melakukan tindakan-tindakan bodoh. Mampu bersikap tenang.

Dengan kepala dingin mulai kembali merunut sebab, mengapa saya sampai sekesal ini, mengapa saya semarah ini. Lantas mencoba menyelesaikannya dengan baik-baik.

Ah, ternyata itu masih teori teman. Saya masih tak bisa mengontrol emosi. Mengontrol ekspresi tidak suka pada sesuatu atau pada sesiapa. Terlalu jelas. Saya bisa begitu saja panas sampai ke ubun-ubun. Mungkin tidak perlu dilihat. Saya saja tidak berani melihat cermin.

Friday, 30 December 2011

gelembung sabun


Ialah sekat yang membatasi tersampainya amal
titik-titik membentuk jelaga
kata-kata indah cermin shalihahnya diri
apalah arti jika nyatanya buruk disana sini…

Bagi saya, niat tak ubahnya seperti gelembung-gelembung sabun yang saya tiupkan perlahan. sangat hati-hati agar ia bisa berbentuk bulat sempurna. saat mengambang, tertiup angin, pecah di udara, ataupun terjatuh di suatu tempat. kembali saya tuipkan perlahan. kembali sangat hati-hati. kembali pecah. kembali ditiup lagi. kembali sangat hati-hati. begitu terus. seperti siklus yang tak habis-habisnya.