Thursday, 21 June 2012

Iqra semesta: Belajar dari Debu

Sekian lama tak bisa bersahabat dengan debu, membuat saya mau tak mau memikirkan benda ringan yang satu ini. apa sebabnya ia yang nyaris tak memiliki massa, mampu membuat hidung saya dengan cepat terserang flu. sedikit saja bersinggungan, maka beberapa jam kedepan hidung saya akan gatal, memerah, mamfet (hehe), dan bernyanyi hatchi hatchi :D


Tapi pada akhirnya, bukan jawaban dari pertanyaan itu yang terpikirkan di benak saya. hal lain. debu. ringan. beredar dimana-mana. nyaris tak tampak. namun, jika dihitung jumlahnya. bisa saja debu itu terkumpul menjadi sebuah gunung. banyak. sangat banyak.

Monday, 11 June 2012

Sky And Me

Seminggu terakhir, aku mulai bercermin pd langit. Pagi mendung. Siang panas. Sore hujan. Malam basah. Pagi berkabut. Siang hujan. Sore basah. Malam kian dingin.

Aku sudah terbiasa bercermin pada langit. Bahkan sejak kemarin. Wajah yang sama. Pagi mendung. Siang mendung. Sore mendung. Malam mendung.

Hanya mendung katamu? Iya. Tapi karenanya, semalaman meringkuk basah kuyup.

Tapi detik ini aku merasa sehat. Tak masuk angin seperti kekhawatiranku yang berlebih. Kembali akan bercermin pada langit. Mendung? Cerah? Berkabut? Atau hujan? Tak masalah. Akan kulukis senyum diatasnya

selamat pagi dunia! :)

Monday, 26 March 2012

i'm promise


seseorang mengatakan ini pada saya:

Sederhana



Bagi saya, sederhana adalah cukup dalam kondisi apapun. Tak tersandung dalam situasi buruk, namun juga tak silau dengan keserbaadaan. Jika setiap orang memiliki check list ‘true’ dan ‘false’, maka check list kedua setelah iman buat saya adalah ini: SEDERHANA


Sederhana. Adalah mengenal. Mengenal fungsi dan manfaat dengan baik. Tak berlebihan. Sinergi antara ilmu dan penghambaan padaNya. Ah, sederhana. Betapa saya sedang belajar mata kuliah itu pada universitas kehidupan yang kita jenjangi setiap semesternya, kawan.