Friday, 23 May 2014

Rahasia Aisya

“Mama, tahu tidak? Ibunya Aisya kabur dari rumah!” Sarah bersemangat memberitahu mama yang sedang asyik membaca buku di teras rumah.
“Sarah, sejak kapan kamu belajar bergosip?” Mama melirik Sarah tak suka.
Ih Mama. Ini benar, ma. Sarah dengar sendiri dari ibu-ibu tetangga RT sebelah.” Sarah masih bersemangat menjelaskan. Tapi Mama terlihat tidak antusias mendengar berita heboh ini. Huh! Padahal sepanjang jalan tadi, Sarah sudah tak sabar ingin menceritakan kabar ini pada mama.

“Mau benar. Mau salah. Ngomongin orang lain alias bergosip itu tetap tidak baik.” Mama kembali asyik membaca buku. Dengan malas, Sarah masuk kedalam rumah.
“Menguping pembicaraan orang lain itu juga tidak baik, Sarah.”
Ah, Mama tidak asyik!” Sarah menyahut kecewa.
***
“Ibunya Aisya kabur dari rumah?! Orang tuanya bertengkar hebat?!” Rahmi bertanya kaget saat mendengar kabar itu dari Intan. Susi disebelahnya antusias mendengarkan. Sedangkan Sarah ikut-ikutan mengangguk, membenarkan.
“Iya! Itulah alasannya mengapa kemarin dan hari ini Aisya tidak masuk sekolah.” Intan menjawab sok yakin. Ia terlihat semangat sekali.
Kabar itu dengan cepat menyebar ke seisi kelas. Kasian sekali Aisya. Akan tetapi selama ini Aisya anak yang sombong. Mentang-mentang anak orang kaya. Rumah Aisya memang paling bagus di kompleks pemukiman yang juga tempat tinggal Sarah dan Intan. Selama ini Aisya selalu diantar ayahnya dengan mobil, setiap pergi sekolah. Aisya juga pendiam.
“Mungkin saja orangtua Aisya akan bercerai karena bertengkar.” Intan kembali menyimpulkan sok yakin. Sarah dan teman-temannya terlihat semakin kaget.
Benarkah orangtua Aisya akan bercerai? Seperti artis di tivi-tivi? Artinya orangtua akan berpisah? Kasihan sekali Aisya.
***
“Ma, katanya orangtua Aisya bercerai. Apa iya ya, ma?”
Mamah mendelik kearah sarah yang belum juga masuk kamar berganti pakaian sekolah.
“Sarah, Mama kemarin bilang apa? Tidak baik membicarakan orang lain. Itu aib keluarga. Apalagi Aisya kan teman sekolah kamu. Satu kelas lagi.”
“Sarah kan cuma bertanya. Kenapa tidak baik?”
“Itu sama saja dengan menggosip. Menggosip itu tidak baik.”
“ Maksudnya bagaimana sih, ma?” Tanya sarah tidak mengerti
“Mama ambil contoh ya. Sarah kan walaupun sudah kelas 3 SD, masih juga takut tidur sendirian. Masih minta dikeloni mama kalau mau tidur. Masih juga makannya minta disuapkan. Belum lagi masih sering ngompol.”
Rona wajah Sarah memerah mendengarnya, “Ih mama. Kok malah ngomongin Sarah sih?”
“Nah, Sarah saja tidak suka kejelekannya Mama bahas kan? Padahal cuma Sarah sendiri yang mendengar. Coba kalau berita ini tersebar di sekolah. Sarah malu kan?” Tanya Mama
“Ya malu banget, ma.” Jawab Sarah cepat
“Nah, Aisya juga pasti malu kalau masalah keluarganya dibicarakan teman-temannya.”
Sarah mengangguk-angguk paham. Mama benar. Mulai besok Sarah tidak ingin membicarakan masalah keluarga Aisya. Kasihan Aisya. Aisya pasti malu sekali. Walaupun selama ini Aisya terlihat sombong. Tapi tetap saja Aisya teman Sarah kan?
***
“Sarah, kamu sudah dengar kalau Aisya masuk rumah sakit?” Intan membawa kabar pagi itu. Sarah tersentak. Masuk rumah sakit? Aisya sakit apa?
“Mungkin karena orangtuanya bertengkar. Saling lempar barang dan mengenai Aisya. Aisya terluka. Dan masuk rumah sakit deh.” Terang Intan lagi-lagi sok tahu.
Hus! Intan keseringan nonton sinetron.” Protes Sarah galak.
Sarah ingat obrolan dengan mama kemarin. Sarah sudah berniat tidak membicarakan Aisya lagi. Teman-teman yang lain juga seharusnya tidak boleh. Tapi bagaimana memberitahunya ya? Saat Sarah sedang berpikir keras. Bel masuk sudah berdering. Hari ini pelajaran agama. Ibu lina, wali kelas mereka yang mengajar.

 “Anak-anak, sebelum memulai pelajaran. Ibu ingin menyampaikan satu hal. Nanti siang sepulang sekolah kita akan menjenguk Aisya. Aisya masuk rumah sakit sejak dua hari yang lalu.” Seisi kelas hening mendengarkan.
“Ibu perhatikan, kalian terus saja membicarakan Aisya. Belum tahu berita sebenarnya. Sudah ribut ini itu.” Seisi kelas masih hening.
“Siapa yang mendengar kabar orangtua Aisya bertengkar?”
Tidak ada yang menjawab. Semua murid menunduk dalam-dalam.      

“Berita sebenarnya, malam itu orangtua Aisya panik karena Aisya tiba-tiba pingsan. Ibunya menangis dan menjerit keras. Ayahnya sibuk menelepon rumah sakit dengan suara keras karena sangat panik. Aisya selama ini sedang sakit. Makanya Aisya terlihat pendiam dan jarang bermain. Karena Aisya memang tidak boleh terlalu lelah.” Ibu Lina menjelaskan panjang lebar.

 Seisi kelas hening. Ternyata dugaan mereka selama ini salah. Sarah sangat menyesal. Intan juga. Teman-teman sekelas mereka juga. Mereka berjanji akan meminta maaf kepada Aisya. Mereka juga berjanji akan menjadi teman yang baik bagi Aisya.

Jujur dan Pak Mujur

 “Kalau kalian mau mujur seperti bapak, jadilah orang yang jujur,” begitu pesan pak Mujur.  Pesan yang karena terlalu sering diucapkan, Faris dan teman-teman menganggapnya seperti angin lalu saja.
Namun hari itu, saat pak Mujur kembali berpesan,” kalau kalian mau mujur seperti bapak, jadilah orang yang jujur.”
Faris tertarik bertanya,“maksudnya bagaimana pak?”

“Maksud bapak, orang jujur itu pasti beruntung. Kalian mau mendengar cerita tentang bapak yang mujur karena jujur?” tanya pak Mujur sambil tersenyum
“Mau pak!” sahut anak-anak kompak. Sepertinya ini akan menarik.
“Sewaktu bapak akan lahir, ibunya bapak hendak dibawa oleh tentara penjajah bersama dengan belasan ibu-ibu lainnya. Waktu itu masih zaman penjajahan belanda. Saat ibu-ibu ditanya satu persatu, apakah mereka bisa membaca. Mereka berpikir yang tidak bisa membaca yang akan dibawa paksa.Banyak warga yang berbohong agar bisa pulang ke rumah. Ibunya bapak menjawab dengan jujur kalau ia tidak bisa membaca.” Pak Mujur berhenti sejenak.
“Akhirnya justru yang tidak bisa membaca yang ditinggalkan dan dapat kembali pulang ke kampung halaman. Karena saat itu tentara penjajah membutuhkan warga yang bisa membaca. Tak lama setelah tentara penjajah pergi.  Bapak lahir. Karena itulah bapak diberi nama mujur.” Terang pak Mujur sambil tertawa.
Setelah bercerita, kembali pak Mujur berpesan,“kalau kalian mau mujur seperti bapak, jadilah orang yang jujur. Termasuk tidak mencontek saat mengerjakan tugas. Apalagi saat ujian.”
“Iyaaa paaak!” jawab Faris dan teman-temannya kompak.
Namun pesan pak Mujur hanya sekedar pesan. Lihat saja seharian ini, Faris dan teman-temannya sibuk membuat kode-kode khusus saat ujian akan berlangsung.
“Kalau satu jari yang menunjuk berarti jawabannya a. Kalau dua jari berarti b. begitu seterusnya,” serius sekali Rafif menjelaskan. Faris dan kelima teman yang lain mengangguk-angguk paham.
Saat mereka sedang serius seperti itu, Bayu datang menghampiri.
“Teman-teman, kalian tahu apa yang kutemukan tadi? hari ini kita beruntung sekali,” sorak Bayu senang.
Faris dan teman-temannya segera mengerubungi Bayu. Bayu mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya. Terlihat huruf-huruf a, b, c, dan d berbaris rapi. Seketika wajah-wajah mereka berbinar.
“Jawaban ujian?!” tanya mereka kompak.
Bayu mengangguk mantap. Seperti mendapat durian runtuh, mereka semangat sekali mengerjakan ujian matematika hari itu. Selama ujian berlangsung, Faris dan teman-temannya sesekali melirik dan tersenyum satu sama lain. Sebelum ujian dimulai, mereka sempat menyalin jawaban dari secarik kertas itu. Tak butuh waktu lama untuk memindahkan jawaban demi jawaban dari secarik kertas itu.
Karena sangat yakin dengan jawaban dari secarik kertas, Faris dan teman-temannya sama sekali tidak membaca soal dan mengecek kebenaran jawabannya. Mereka baru membacanya setelah ujian selesai dan lembar soal boleh dibawa pulang.
“Soal pertama, 34 x 17. Kok jawabannya a. Seharusnya b. Coba kalian cek lagi.” ujar Faris sambil menghitung perkalian itu dibukunya.
Rafif tertarik ikut menghitung. Seketika wajahnya berubah menjadi cemas.
“Iya, Ris. Seharusnya b bukan a.”
Yang lain ikut menghitung. Kenyataan baru mereka sadari. Jawaban dari secarik kertas itu bukanlah jawaban soal matematika tadi. Dari sepuluh soal yang tergolong mudah. Hanya satu yang jawabannya benar. Faris dan teman-temannya menjadi panik.
“Bagaimana ini? kamu mendapat kertas itu dari mana, Yu?” tanya Reno cemas. Mereka semua terlihat cemas.
“Aku menemukannya di dekat pintu kamar mandi,” jawab Bayu lemas.
Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nasi telah menjadi bubur. Mereka lebih memilih menyontek daripada mengerjakan soal itu sendiri. Benar-benar tidak mujur. Faris seketika teringat pesan dari pak Mujur.
“Kalau kalian  ingin mujur seperti bapak, jadilah orang yang jujur.”

Yang terjadi hari ini sebaliknya. Karena saat ujian tidak jujur, hasilnya terancam hancur. Faris dan teman-temannya sama sekali tidak mujur.

Donat untuk Dona

“Ada lagi.” Dona bergumam pelan.
Diambilnya sebuah donat keju dari laci meja. Ini kali ketiga selalu ada donat keju di dalam laci mejanya. Siapa yang sengaja menaruhnya disini? Siapa yang tahu kalau akhir-akhir ini Dona memang suka donat keju?
Awalnya tepat sepekan yang lalu. Dona membeli donat yang pertama kali terlihat di kantin. Setelah merasakannya, Dona menjadi amat suka. Donat itu berbeda dengan donat yang lain. Rasanya lebih gurih dan empuk. Akan tetapi, Dona tidak bisa setiap hari membeli. Tidak setiap hari Dona diberi ibu uang saku. Kalau ibu ada kelebihan uang saja dari hasil panen sayur di kebun.

Dua hari kemudian, ibu memberi uang saku. Dona riang sekali. Seharian ia tersenyum. Meskipun seperti biasa, Dona tidak pernah mau mengobrol dengan siapapun di kelas. Ia anak yang sangat pendiam. Hari itu, Dona bisa tersenyum senang sepanjang hari.
Saat bel istriahat berbunyi, Dona bergegas mengambil tongkat penyangga kakinya. Dona butuh itu karena belum dapat berjalan normal. Sudah dua bulan kaki kirinya harus di gips. Karenanya, Dona tidak bisa berjalan dengan leluasa. Apalagi berlari. Dona menjadi amat sedih saat dilihatnya tempat donat yang sudah kosong. Donat keju habis terjual. Ingin sekali ia menangis. Sejak pagi tadi ia menginginkannya.
Dona berjalan tak bersemangat ke kelas. Tak sengaja ia merogoh laci meja mencari buku tulisnya. Saat itulah Dona menemukan sebuah donat. Donat keju. Persis dengan donat yang dijual di kantin. Waktu itu Dona tidak banyak pikir. Ia langsung  melahapnya.
Begitulah sampai hari ini. selalu ada donat di dalam laci meja Dona. Mau tidak mau Dona menjadi penasaran. Siapa yang membelinya? Siapa yang menaruhnya disini?
Dona sedang memikirkan itu, saat Naya masuk dan tersenyum padanya. Dona diam saja, tidak membalas senyum. Naya anak baru di kelas Dona. Mereka bahkan satu bangku. Tapi Dona sama sekali tidak menggubris Naya semenjak ia masuk sepekan ini.
Dona memang tidak ingin dekat dengan siapapun di kelas ini. walaupun bu Leni selalu berkata agar semua murid di kelas dapat berteman dengan baik. Dona benar-benar tidak ingin melakukannya. Dona sebenarnya tidak sombong. Hanya saja ia minder. Selain karena merasa orangtuanya bukan dari kalangan orang kaya seperti orangtua teman-temannya. Dona juga merasa fisiknya tidak seperti mereka.
“Kamu sudah mengerjakan pr matematika, Na?” tanya Naya padanya
Dona hanya menggeleng malas, ia masih memikirkan siapa yang memberinya donat keju setiap waktu istirahat. Sepertinya Dona harus mencari tahu.
Keesokan harinya saat istirahat. Dona pura-pura ke kantin. Sebenarnya ia ingin mengintip dari jendela kelas. Tak lama, terlihat seseorang masuk ke dalam kelas. Dona melihat dengan jelas siapa orang itu. Naya! Naya terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Lalu diletakkannya di dalam laci meja Dona.
Tak menunggu lama, Dona masuk ke dalam kelas. Naya agak kaget melihatnya.
“Eh, Dona,” ucap Naya
“Jadi kamu yang selama ini menaruh donat di laci mejaku?” tanya Dona
Naya mengangguk pelan. Ia mencoba untuk tersenyum.
Mengapa?” tanya Dona
“Aku tahu kalau kamu suka donat buatan ibuku. Sebenarnya aku ingin memberi langsung, tapi urung,” jawab Naya pelan
Donat buatan ibunya Naya? Dona baru mengetahui hal itu.
“Ini namanya donat keju sukun. Karena terbuat dari buah sukun,” terang Naya sambil tersenyum lebar
Dona masih diam. Tidak berkata apa-apa
“Ibuku penjual donat. Setiap pagi aku membawa jualan ibuku ke kantin. Lumayan untuk menambah uang saku. Setiap hari ibu memberiku bekal dua buah donat keju.” Jelas Naya kemudian.
Dona menyadari satu hal. Walaupun masih baru dan bukan berasal dari keluarga kaya, Naya bisa bergaul dengan baik bersama teman-teman lainnya. Tidak seperti dia yang suka menyendiri dan bersikap sombong.
“Terima kasih ya, Nay,” ucap Dona sambil mencoba tersenyum
“Iya, sama-sama. Kamu mau bersahabat denganku, bukan?” tanya Naya

Dona mengangguk. Terlukis senyum indah di wajahnya.

Gulali untuk Ali

Danar berjalan cepat menuju kantin sekolah. Wajahnya terlihat senang. Setelah penat belajar selama dua jam, bunyi bel istirahat seolah terdengar merdu di telinga Danar dan murid-murid lainnya.  Apalagi ada jajanan baru di kantin sejak tiga hari yang lalu. Gulali. Bukan sembarang gula yang tentu saja manis. Gulali juga sangat menarik. Di tangan mamang penjualnya, gulali bisa menjadi berbagai macam bentuk yang unik dan lucu.
“Mang, buatkan singa ya!” seru Danar tak sabar. Ia berada diantara belasan anak-anak lain yang ikut dibuatkan gulali.

“Buatkan saya bunga, mang!”
“Burung, mang!”
“boneka beruang, mang!”
Hiruk pikuk anak-anak terus terdengar. Tangan si mamang terus bergerak lincah. Tangan kirinya memegang sebatang lidi. Tangan kanannya membentuk gulali yang belum mengeras. Dan tara! Jadilah gulali dengan bentuk sesuai pesanan.
Danar masih setia menunggu. Matanya tak lepas dari gerakan lincah tangan si mamang. Ia baru menengok ke samping setelah merasa kakinya terinjak oleh seseorang,
“Aduh, lihat-lihat dong,” ucapnya kesal
“Eh, maaf.”
Danar pun menengok. Ternyata yang menginjaknya itu Ali. Teman sekelas Danar. Walaupun sekelas, Danar tidak begitu akrab dengan  Ali. Selain karena tempat duduk mereka berjauhan, Ali juga anak yang pendiam.
“Maaf ya, Danar,” ucap Ali lagi
“Tidak apa-apa. Kamu juga tidak sengaja,” sahut Danar sambil tersenyum
Ali balas tersenyum. Mereka  berdua kembali melihat gulali yang sedang dibentuk oleh si mamang.
Pesanan gulali bentuk singa sudah berada di tangan Danar. Hebat sekali mamang gulali ini, begitu fikir Danar. Apakah ia seorang seniman? Tentu tidak sembarang orang yang bisa membuat bentuk singa seperti ini.
Danar menikmati gulalinya sembari duduk di kursi panjang depan kelasnya. Ia melihat Ali berjalan menuju kelas. Bukankah tadi Ali menunggu gulali? Mengapa ia tidak memegang gulali?
“Ali, gulalinya mana?” tanya Danar. Lidahnya masih asyik menjilati gulali.
Ali menggeleng. Ia tersenyum lebar.
“Habis ya? Kamu tidak kebagian?” tanya Danar lagi
Ali kembali menggeleng
“Aku tidak beli kok. Tadi hanya lihat saja.”
Danar mengangguk-angguk. Tapi untuk apa Ali menunggu si mamang membuat gulali padahal ia tidak membelinya?  Ali masuk ke dalam kelas dan tak lama keluar lagi. Ia memegang sebuah kotak bekal.
“Ali, duduk disini yuk!” ajak Danar
Ali mengangguk. Ia duduk di samping Danar dan mengeluarkan kue dadar gulung dari kotak bekalnya. Ternyata Ali membawa kue dari rumah. Pantas saja ia tidak membeli gulali.
Ali menikmati dadar gulungnya sambil melirik-lirik kearah gulali yang sedang dinikmati Danar. Tentu saja Danar menyadarinya. Apakah sebenarnya Ali ingin makan gulali?
Sepulang dari sekolah, Danar masih memikirkan Ali. Ia justru bertanya pada mamanya,“Ma, Danar boleh berbagi kan?”
“Tentu saja, sayang,” jawab Mama
“Ada teman Danar yang ingin makan gulali, tapi tidak beli. Mungkin saja karena tidak bawa uang jajan. Ia hanya bawa bekal dari rumah.”
“Wah, itu lebih bagus, nak. Lebih sehat,” komentar Mama
“Bukan itu maksud Danar, Ma. Teman Danar itu juga mau mencoba manisnya gulali.”
“Iya, boleh sekali-sekali. Tapi ingat ya, tidak baik terlalu sering makan gulali. Apalagi kalau malas sikat gigi. Giginya bisa habis dimakan gulali. Bagaimana kalau besok Danar bawa bekal dari rumah seperti Ali?” tawar Mama.
Danar tertawa dan mengangguk setuju.
Esoknya saat jam istirahat di kantin sekolah. Danar kembali bertemu Ali yang sedang asyik melihat gerakan tangan si mamang membentuk gulali. Danar memesan dua gulali dengan bentuk burung bangau. Tak lama pesanannya jadi.
“Ali, ini gulali untukmu.” Danar menyodorkan gulali burung bangau itu kearah Ali. Ali menggeleng ragu
“Tidak apa-apa. Sekali-sekali aku ingin mentraktir. Ini gulali terakhir sepekan ke depan. Mamaku bilang tidak baik terlalu sering makan gulali. Katanya nanti gigiku habis dimakan gulali. Besok aku juga mau membawa bekal sepertimu.” jelas Danar panjang lebar.

Ali tertawa mendengarnya. Ia menerima gulali itu dengan senang hati. Berbagi itu manis. Manis seperti gulali.