Kening saya berkernyit saat melihat artikel yang di share beberapa orang di facebook. Langgam Alquran yang dibacakan dalam peringatan Isra Miraj. Apa itu langgam? Mulai deh kepo. Saya langsung buka youtube.
Dan hasilnya! Seperti mendengar lagu keroncong waljinah. Asing! Banyak yang mengecam tilawah Alquran dengan langgam jawa ini. Kesalahan tajwid, dimana panjang madnya dipaksakan mengikuti kebutuhan
lagu. Begitu komentar Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, Qari’ internasional
dari Arab Saudi. Subhanallah. Maha Suci Engkau ya Allah dari apa yang sudah mereka lakukan.
Monday, 18 May 2015
Sunday, 22 February 2015
Sudah ide sama, keduluan pula?
Awal tahun 2015, saya tiga kali dihadapkan kenyataan. Tiga ide (yang saya anggap paling wah buat saya sendiri) sudah bertengger manis dua diantaranya di rak toko buku gramedia.
"Ya Allah, ini kan...." cuma kalimat itu yang terbersit di fikiran.
selebihnya...
Sedih.
Sangat sedih.
Ide, konsep, sama persis. Hanya isi cerita yang berbeda. Sama dan mirip itu hal biasa, banyak yang bilang begitu. Tapi kemiripan yang nyata begini begitu menohok.
Tapi yang menjadi obat adalah, ketiga ide buku itu sudah di accdi penerbit.
Ah, kembali berproses, lebih fokus melihat ke depan, kurangi melirik kiri kanan. Itu yang harus saya lakukan, bukan?
Semagnum!
"Ya Allah, ini kan...." cuma kalimat itu yang terbersit di fikiran.
selebihnya...
Sedih.
Sangat sedih.
Ide, konsep, sama persis. Hanya isi cerita yang berbeda. Sama dan mirip itu hal biasa, banyak yang bilang begitu. Tapi kemiripan yang nyata begini begitu menohok.
Tapi yang menjadi obat adalah, ketiga ide buku itu sudah di accdi penerbit.
Ah, kembali berproses, lebih fokus melihat ke depan, kurangi melirik kiri kanan. Itu yang harus saya lakukan, bukan?
Semagnum!
Tuesday, 29 July 2014
Tentang cinta -----> Frozen & Brave
Ada jarak yang memisahkan kita
Mungkin tampaknya tersebab olehmu
Tapi tidak, ini karenaku
Memaksamu
Membuatmu tak memiliki pilihan
Menjauh dan merahasiakan
Apa yang lebih pedih dari merindu namun berpura-pura acuh, sayang?
Siapa bilang cinta hanya untuk mereka yang sedang dalam suasana merah jambu? Setelah Disney selalu menyajikan cinta sepasang putri-pangeran bertahun-tahun. Mulai dari cinta cinderella, putri salju, rapunzel, aladin, dst. Akhir-akhir ini Disney menghadirkan cinta berbeda. Lebih indah. Lebih mengharukan. Ah, airmata ini menitik kala menikmati dua film, Frozen dan Brave.
Kalau Frozen berkisah tentang cinta kakak beradik. Brave berkisah tentang cinta ibu dan anak gadisnya. Ok. Satu persatu ya.
Frozen. Ah, cinta kakak adik adalah cinta dalam diam. Siapa yang tidak pernah bertengkar dengan kakak atau adik? Tapi siapa yang tidak merindu dengan kakak atau adik saat berjauhan? Pada siapa lidah kelu jika mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung? Pada siapa yang enggan menanyakan kabar apakah kau baik-baik saja disaat berjauhan? Cinta pada saudara. Pada kakak. Pada adik. Adalah cinta dalam diam. Tidak perlu ucapan. Tidak perlu manisan kata. Cinta itu tumbuh seiring keluarnya kita pada rahim yang sama.
Airmata saya berjatuhan saat Anna, sang adik mengajak kakaknya, Elsa bermain. Elsa di dalam kamar berpura-pura dingin. Padahal ia sendiri dingin oleh rindu bermain. Beruntung, saya memiliki masa kecil yang indah bersama keempat saudara kandung saya. Apa rasanya kesepian sedangkan kakakmu berdiam diri di kamar tanpa kamu tahu alasannya apa? Lebih lagi, apa rasanya kesepian menanggung perasaan bersalah, rahasia, dan rindu yang menggebu pada adik tersayang?
Itulah kisah Frozen. Kisah yang berakhir amat manis. Ketika percayanya sang adik pada cinta sang kakak. Ketika sang kakak hanya mengkhawatirkan keadaan sang adik. Happy ending. Sebab cinta kita, kakak. Yang menghilangkan jarak bertahun-tahun lamanya.
Brave. Merida adalah sosok putri yang paling saya idolakan. Dia tidak anggun atau feminim. Ia begitu bebas, bebas, dan bebas. Memanah, berkuda, layaknya seorang kesatria. Merida dituntut bersikap layaknya sang putri oleh ibunda. Dalam kisah ini, tidak ada sosok antagonis berarti. Merida memiliki hak menjadi apa ia kelak. Namun ibunda tak bisa disalahkan ingin menjadikan Merida sosok putri seutuhnya.
Ending film Brave lagi-lagi membuat airmata saya berjatuhan. Ah, sungguh. Cinta seorang ibu, adalah cinta sejati yang sebenarnya. Merida menyadari kekeliruannya menilai ibunda saat ia tak sengaja membuat ibunya berubah menjadi seekor beruang. Cinta seorang ibu, membuat Merida tak putus asa melakukan segala cara agar ibunya kembali berubah menjadi manusia. Akhir yang amat manis, saat Merida jalan-jalan menaiki kuda bersama Ibunda. Ibu yang kini memahami pilihan sang anak. Anak yang memahami cinta sang ibu.
Mungkin tampaknya tersebab olehmu
Tapi tidak, ini karenaku
Memaksamu
Membuatmu tak memiliki pilihan
Menjauh dan merahasiakan
Apa yang lebih pedih dari merindu namun berpura-pura acuh, sayang?
Siapa bilang cinta hanya untuk mereka yang sedang dalam suasana merah jambu? Setelah Disney selalu menyajikan cinta sepasang putri-pangeran bertahun-tahun. Mulai dari cinta cinderella, putri salju, rapunzel, aladin, dst. Akhir-akhir ini Disney menghadirkan cinta berbeda. Lebih indah. Lebih mengharukan. Ah, airmata ini menitik kala menikmati dua film, Frozen dan Brave.
Kalau Frozen berkisah tentang cinta kakak beradik. Brave berkisah tentang cinta ibu dan anak gadisnya. Ok. Satu persatu ya.
Frozen. Ah, cinta kakak adik adalah cinta dalam diam. Siapa yang tidak pernah bertengkar dengan kakak atau adik? Tapi siapa yang tidak merindu dengan kakak atau adik saat berjauhan? Pada siapa lidah kelu jika mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung? Pada siapa yang enggan menanyakan kabar apakah kau baik-baik saja disaat berjauhan? Cinta pada saudara. Pada kakak. Pada adik. Adalah cinta dalam diam. Tidak perlu ucapan. Tidak perlu manisan kata. Cinta itu tumbuh seiring keluarnya kita pada rahim yang sama.
Airmata saya berjatuhan saat Anna, sang adik mengajak kakaknya, Elsa bermain. Elsa di dalam kamar berpura-pura dingin. Padahal ia sendiri dingin oleh rindu bermain. Beruntung, saya memiliki masa kecil yang indah bersama keempat saudara kandung saya. Apa rasanya kesepian sedangkan kakakmu berdiam diri di kamar tanpa kamu tahu alasannya apa? Lebih lagi, apa rasanya kesepian menanggung perasaan bersalah, rahasia, dan rindu yang menggebu pada adik tersayang?
Itulah kisah Frozen. Kisah yang berakhir amat manis. Ketika percayanya sang adik pada cinta sang kakak. Ketika sang kakak hanya mengkhawatirkan keadaan sang adik. Happy ending. Sebab cinta kita, kakak. Yang menghilangkan jarak bertahun-tahun lamanya.
Brave. Merida adalah sosok putri yang paling saya idolakan. Dia tidak anggun atau feminim. Ia begitu bebas, bebas, dan bebas. Memanah, berkuda, layaknya seorang kesatria. Merida dituntut bersikap layaknya sang putri oleh ibunda. Dalam kisah ini, tidak ada sosok antagonis berarti. Merida memiliki hak menjadi apa ia kelak. Namun ibunda tak bisa disalahkan ingin menjadikan Merida sosok putri seutuhnya.
Ending film Brave lagi-lagi membuat airmata saya berjatuhan. Ah, sungguh. Cinta seorang ibu, adalah cinta sejati yang sebenarnya. Merida menyadari kekeliruannya menilai ibunda saat ia tak sengaja membuat ibunya berubah menjadi seekor beruang. Cinta seorang ibu, membuat Merida tak putus asa melakukan segala cara agar ibunya kembali berubah menjadi manusia. Akhir yang amat manis, saat Merida jalan-jalan menaiki kuda bersama Ibunda. Ibu yang kini memahami pilihan sang anak. Anak yang memahami cinta sang ibu.
Monday, 16 June 2014
Kebaikan Onil
“Hoek! Bau apa ini?!” teriak Rae si rusa kaget. Bau busuk tiba-tiba tercium hidungnya
“Hoek! Iya nih! Bau sekali!” Zee si Zebra ikut-ikutan berteriak. Zebra-zebra lainnya juga mencium bau yang sama.
“Kamu buang angin ya?”
“Enak saja! Kamu tuh yang buang angin!”
Mereka saling menyalahkan.
Tiba-tiba ada yang muncul dari permukaan sungai. Itu Onil si Kuda nil yang sejak tadi asyik berendam.
“Maaf ya teman-teman, aku yang buang angin.” ujar Onildengan santai. Ia bahkan kembali buang angin. Onilmembuka mulutnya lebar-lebar. Saking lebarnya, satu ekor rusa tentu bisa masuk ke dalam mulutnya itu. Dan, olala tercium kembali bau busuk itu.
“Kamu ini jorok sekali kuda nil!” ujar Zeekesal
“Iya, masa buang angin dari mulut!” Raemenambahi
Onil hanya menyengir lebar. Memang kenyataannya begitu. Semua kuda nil memang buang angin dari mulut.
“Tempat kamu makan kok sama dengan tempat buang angin? Huek! Mengerikan!” ejek Rae sambil tertawa
“Ahahahaha! Ahahahahaha!” Zee dan semua zebra ikut tertawa
Onil menjadi malu sekali. Rasanya ingin sekali ia menangis.
“Lihat dong, Onil berkaca-kaca. Sebentar lagi menangis tuh. Hahahaha. Badan besar tapi menangis seperti bayi. Hahahaha.”
Mereka sudah keterlaluan. Onil ingin sekali mengejar dan memberi mereka pelajaran dengan satu serudukan. Tapi Onil tahu, kalau itu ia lakukan. Mereka akan mati. Onilbukan hewan jahat. Ia memilih diam dan pergi. Onil menuju sungai yang lebih dalam untuk berendam.
Berendam sangat mengasyikan. Onildapat melupakan kejadian tidak menyenangkan tadi. Walaupun memang benar ia buang angin lewat mulut. Tapi mereka juga tidak bisa mengejeknya seperti itu. Ah sudahlah, lupakan saja.
Onil sedang asyik berendam, saat ia mendengar jeritan minta tolong,
“Tolong!”
Bukankah itu suara Rae?
“Tolong kami!”
Bukankah itu suara Zee tan teman-temannya? Ada apa dengan mereka?
Onill tak menunggu lama. Ia bergegas keluar dari sungai dan berlari ke arah suara jeritan. Tampak olehnya seekor Harimau mengejar Raedan rombongan Zee yang berlari kocar-kacir.
Onil dapat berlari cepat meskipun tubuhnya amat besar. Sekuat tenaga ia mengumpulkan nafas. Dan,
Hoaaaa....!
Onil buang angin lewat mulutnya. Tepat di depan wajah Harimau. Seketika Harimau itu kaget dan pingsan.
Rae dan rombongan Zee jatuh tersungkur kelelahan. Mereka masih kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi. Hampir saja salah satu dari mereka menjadi santapan Harimau. Ternyata Onil buang angin dari mulut itu ada gunanya juga.
“Terima kasih Onil,” ucap Rae terbata-bata. Ia masih lemas ketakutan.
“Maafkan kami ya. Kami sudah mengejekmu tadi. Tapi kamu justru menolong kami,” ujar Zeesambil menangis.
“Maaf ya Onil!” mereka semua meminta maaf dengan tulus.
Onil mengangguk dan tersenyum lebar. Membalas keburukan dengan kebaikan itu menyenangkan sekali ya?
(Lampung Post, 15 Juni 2014)
Subscribe to:
Posts (Atom)


