Wednesday, 1 January 2014

Leleo dan kumis ajaibnya



Meskipun hari ini tidak begitu cerah, Leleo si ikan Lele, tetap bergembira. Ini adalah hari pertamanya menjadi penghuni sungai Asri. Setelah tiga hari Leleo melakukan perjalanan jauh dari kampung halamannya.
Sesekali Leleo bernyanyi sambil meliuk-liukan tubuhnya. Tak jarang  ia menyapa hewan-hewan lain yang ditemui di jalan. Ada Pak Penyu, Paman Gabus, Ibu Gurame,  juga serombongan anak-anak Sepat. Leleo hendak berkenalan dengan penghuni sungai yang bakal menjadi teman-teman barunya. 

“Hai, namaku Leleo. Siapa namamu?” Leleo memulai perkenalan saat bertemu dengan seekor ikan Tawes.
“Namaku Etaw,” jawab si ikan Tawes sambil tersenyum. Leleo segera membalas dengan tersenyum lebar.
“Sepertinya kamu ikan baru di sungai ini ya?” tanya Etaw sambil mengitari Leleo
“Iya, aku dari sungai yang sangat jauh, namanya sungai mata kucing. Kamu pasti kaget mendengar namanya, bukan? Tentu saja namanya terdengar aneh. Karena sungai kampungku itu kalau dari jauh terlihat berwarna hijau seperti mata kucing. Uh, tapi jangan salah kalau kau sudah masuk kedalamnya. Airnya jernih dan berlumpur. Asyik sekali untuk bermain-main seharian,” terang Leleo panjang  lebar.
“Lalu mengapa kamu pindah kemari?” tanya Etaw.
“Aku hanya bosan. Ingin sekali berpetualang ke sungai yang lebih indah. Mungkin saja bisa lebih menyenangkan,” jawab Leleo disambut anggukan kepala Etaw.
“Sombong sekali kau, ikan baru!” tiba-tiba terdengar cibiran yang ternyata berasal dari seekor  ikan Betok.
“Sombong? Oh! Maaf, aku baru sempat memperkenalkan diri. Namaku Leleo. Siapa namamu? Apakah kau juga ingin mendengar petualanganku saat melawan arus?” tanya Leleo
“Jangan sok hebat kau, anak berkumis. Lucu sekali. Masih kecil kok sudah berkumis. Hei! Kau harus tahu. Di sungai ini satu-satunya yang berkumis hanyalah Pak Lele tua. Itu pun karena dia sudah tua. Hahahaha,” ejek si ikan Betok
Tak pernah Leleo diejek seperti ini. Ejekan ikan Betok itu benar-benar membuat Leleo kesal. Ingin sekali ia marah. Tapi ditahannya.
“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Ebot,” ujar Etaw.
Ternyata nama ikan Betok itu adalah Ebot.
“Apa urusanmu, Etaw? Anak itu yang sombong!” Ebot membantah.
Leleo memilih diam dan pergi. Ah, lebih baik Etaw juga tidak usah mendekatinya lagi. Leleo jadi rendah diri. Ebot benar, Leleo sangat jelek dengan kumisnya.
Keesokan harinya, Leleo tidak lagi semangat seperti kemarin. Seharian ia hanya berdiam diri di dalam lumpur yang menjadi tempat favoritnya. Etaw yang beberapa kali membujuk Leleo pun tidak berhasil membuat Leleo kembali semangat dan ceria lagi.
Saat Leleo masih terpekur sedih, sayup-sayup didengarnya suara meminta tolong.
“Tolong! Tolong!”
Leleo segera pergi menuju sumber suara itu.
“Tolong! Anakku hilang! Anakku satu-satunya hilang! Oh, Tuhan, dia masih sangat kecil,” Ibu Gurame menangis tersedu-sedu.
 Seluruh penghuni sungai panik. Mereka sibuk mencari anak Gurame. Belum pernah terjadi kehilangan seperti ini selama sebulan terakhir. Mungkinkah anak Gurame tersangkut kail? Olala, ini mengerikan sekali.
Leleo juga ikut panik. Tapi Leleo urung bergabung bersama Etaw dan ikan lainnya mengingat ejekan Ebot kemarin. Leleo memutuskan untuk mencari anak Gurame dari arah yang lain. Ia melawan arus ke arah hulu sungai. Lantas berbelok ke tikungan sebelah kanan badan sungai. Menjejaki setiap lumpur sungai dengan kumisnya. Leleo bisa mengenali bau hanya dari kumisnya.
Leleo merasa ada sesuatu di timbunan lumpur. Ada bau yang tak asing. Leleo memastikan dengan mengendus-ngedus bau itu dengan kumisnya. Hei! Bukankah ini bau khas ikan. Leleo mulai masuk kedalam lumpur yang lumayan tebal itu. Diraba-raba sesuatu itu dengan mulut dan kumisnya. Terlihat anak Gurame tergeletak pingsan disana. Leleo menarik nafas lega setelah tahu anak Gurame masih bernafas.
Leleo segera menarik anak Gurame keluar dari timbunan lumpur. Dengan susah payah, ia membawa anak Gurame yang masih pingsan itu ke tempat ibunya.
“Itu anakku! Terima kasih, Leleo!” teriak ibu Gurame saat melihat Leleo.
Semua terhenyak dan menyusul Leleo. Beberapa membantunya membawa anak Gurame. Seluruh penghuni sungai bergembira dengan ditemukannya anak Gurame. Berkat Leleo dan kumisnya.
“Kumismu ajaib sekali, Leleo,” puji Ebot.
Leleo tersenyum mendengarnya.
***

Leleo dimuat di Lampung post tanggal 24 Maret 2013
 

No comments:

Post a Comment